Pun sedemikian bagiku.
BraemarHill, 16 July 2013
01.15 am
Ay
Menulis adalah cara saya mendewasakan hati, membahasakan jiwa dan mempertajam ingatan. Dengan menulis membuat saya berpikir lebih terbuka, dan bagi saya menulis adalah salah satu cara meningkatkan kecerdasan. This blog is about my mind, my world, and sometime what I just want to share. It is called life, but just call me “Ay“.
Ada sebuah pernyataan, “Pragmatisme yang lahir setelah epistemologi sekuler memvonis bawa tak ada cara menemukan kebenaran yang sungguh-sungguh dapat diandalkan oleh manusia. Tak ada kebenaran yang bernilai mutlak. Semua kebenaran itu relatif termasuk agama, tidak hanya satu tetapi banyak, tergantung dari sudut mana memandang. Kebenaran agama juga tidak bernilai mutlak, karena kemutlakan hanya ada disisiNya. Setiap kebenaran termasuk kebenaran wahyu tak kebal kritik semua masih bisa dipertanyakan kebenarannya.“
Mari menanggapinya dengan kepala yang jernih dan hati yang tidak menyombong lebih dulu. Pernyataan seperti diatas sering mempengaruhi dasar-dasar pemikiran sebagian kaum yang mengaku sebagai generasi intelektual. Jika tidak arif menyikapinya kita bisa dengan sia-sia jatuh sebagai korban cacat pemikiran.
Mari sekilas kembali menelaah secara jeli bahwa, relativisme epistemonologis diorbitkan melalui sebuah argumen yang menumpang pada teori relativitas alam dan sifat kejamakan ilmu ukur. Relativisme epistemonologis dapat dengan mudah melemahkan keimanan. Bukti yang kuat ialah banyaknya orang percaya kepada Tuhan tetapi tidak kepada agama. Agama hanya dianggap sebagai kumpulan ritual untuk menenangkan jiwa yang kalut dalam dosa. Serta hanya mengharapkan Tuhan sebagai tempat memohon ampunan. Agama hanya dipandang secara pragmatisme. Tanpa isi tanpa esensi.
Coba kita pahami lebih lanjut apa itu pragmatisme. Kaum pragmatis menganggap bahwa manfaatlah yang lebih tepat dijadikan sebagai ukuran kebenaran. Dengan mengutamakan bahwa sebuah kebanaran harus mempunyai manfaat praktis dalam kehidupan manusia. Lalu bolehkah saya bertanya, menurut kacamata siapakah manfaat itu bisa dikatakan memberi nilai praktis? Tentu setiap orang tidak mempunyai pandangan yang sama. Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran pernyataan diatas bahwa kebenaran itu relatif. Maka jika kebenaran ialah relatif apakah masih bisa disebut sebuah kebenaran? Bisakah dijadikan sebagai tolak ukur berkehidupan? TIDAK.
Apakah tidak ada kaum pragmatis yang mempercayai kebenaran agama? Ada. Tetapi dalam prakteknya mereka hanya sebatas mempercayai dan mengambil secuil saja yang menurutnya bermanfaat dan yang tidak (menurutnya) akan diabaikan. Dimanfaatkan hanya sebatas kedudukan fungsional agama meskipun mereka mengakui bahwa agama mempunyai pengaruh yang baik dalam jiwa individunya. Inilah yang lebih disebut beragama tapi cuma sampai pada kulitnya.
Relativisme beserta anak buahnya seperti pragmatisme, solipsisme, perspektisme, skeptisme, inderterminisme dan seterusnya hanya dapat dibenarkan jika terletak pada tempatnya. Sayangnya, banyak pihak menggeneralisasi relativisme ini sehingga mencakup kebenaran lain yang “pasti benar“ menurut otak waras. Menyusup didalamnya. Maka jika kita tidak teliti akan sangat gampang dipengaruhi bahkan sadisnya dikibuli.
Menurut penganut epistemonologi sekuler, antara sains dan agama tidak dapat dikonfrontasi. Masing-masing harus berdiri pada wilayahnya. Agamawan berkutik pada teoritas agama dan ilmuwan pada bidang sains. Keduanya tidak boleh mengintervensi. Harus tahu batasannya.
Fine, bagi penganut epistemonologi sekuler mungkin hal ini benar. Tetapi mari kita coba berpikir selangkah didepan. Ilmu pengetahuan dan Sains seharusnya tidak pernah dilepaskan dari pengaruh terhadap keTuhanan. Mari kembali kepada Sang Maha Tahu. Sains seharusnya beremanasi dari segi keimanan/keTuhanan. Menyingkirkan Tuhan dari wawasan berpikir merupakan kesalahan paling besar, hal ini hanya akan menghasilkan sains yang rabun. Ibarat orang rabun jalannya lambat dan sering kesasar. Begitu juga dengan sains yang rabun. Bukanlah hal ini justru memposisikan diri sebagai makhluk paling pintar? Sepintar-pintarnya manusia ialah dia yang paling tahu letak kekurangannya maka dari sanalah ia belajar. Belajar dan belajar. Berproses untuk sesuatu yang lebih baik. Maka nyatalah ia tahu dari segala yabg diketahuinya ternyata ia belumlah tahu, sebab DIA-lah sang pemilik segala Pengetahuan tak terkecuali pengetahuannya sendiri.
Terlambat. Apapun bentuk alasannya saya lebih sering tidak toleransi dengan pelakunya mengenai sebuah keterlambatan. Apalagi bila sudah disetujui jadwalnya entah itu pertemuan penting, sekedar makan, ke dokter, apapun jenisnya yang berhububgan degan ketepatan waktu. Termasuk kalau terlambat gajian tentu saya lebih tidak toleransi. Begitu juga kalian kan?
Jika alasannya ada kepentingan bagi saya itu alasan yang sudah kadaluarsa. Sebab setiap orang tentu punya kepentingan. Keperluan dan kewajiban. Tetapi hal yang perlu digaris bawahi ialah bagaimana kita mengatur waktu agar semua kewajiban kita terlaksana tepat waktu. Matipun kalau belum tepat waktunya juga tidak jadi mati kan? Walau dicoba bunuh diri menginginkan mati lebih awal.
So, kenapa saya katakan saya tidak punya toleransi dengan kata “TERLAMBAT“?
Hal ini berhubungan dengan tingkat keseriusan kita menghargai orang lain. Artinya, kita menghargai waktu orang lain yang disediakan untuk kita. Karena bisa jadi kepentingannya tidak hanya sekedar menemui kita. Dan terlebih menikmati keterlambatan yang kita timbulkan. Ada banyak keperluan orang lain yang tidak kita tahu. Bisa jadi dengan keluarga, klien, teman-temannya bahkan yang jarang kita pikirkan adalah dia juga ingin punya waktu untuk dirinya sendiri.
Dengan datang tepat waktu dan tidak membuat menunggu artinya kita benar-benar mengagendakan pertemuan itu dengan serius. Misalnya, jika kita ada meeting dengan klien ataupun calon customer (Asuransi) hal ini sangat berpengaruh. Kenapa? Jika pada awal pertemuan saja kita tidak mampu meyakinkan dengan bentuk tanggungjawab yang sederhana (tepat waktu) bagaimana dengan tanggungjawab yang lebih besar? Jika anda terlambat sudah jangan heran jika anda diragukan.
Contoh lain yang lebih penting ialah saat rekrutment. Jadwal interview. Hal ini sangat menentukan, tentu didukung dengan intelektualitas dan kinerja anda (jika ada pengalaman kerja). Biasanya dari sini perwakilan perusahaan dapat menyimpulkan bagaimana anda kelak jika sudah bekerja. Baru wawancara saja sudah terlambat bagaimana jika sudah kerja? Kesempatan anda diterima sudah pasti lewat.
Terlambat sekali dua kali itu wajar. Tetapi jika terjadi ketiga kali itu menunjukkan bahwa kita jenis orang yang kurang mampu bertanggungjawab. Lalu bagaimana jika sudah berusaha maksimal tetapi ada hal tidak terduga yang harus diutamakan dan akhirnya membuat kita terlambat?
Well, segera lakukan konfirmasi. Memberikan kabar kepada pihak yang bersangkutan agar tidak bertanya-tanya dan menunggu tanpa jawaban. Entah itu terlambat bayar utang, tagihan, janjian.
Sesuatu yang sangat penting menyikapi hal ini adalah bagaimana kita memanage waktu. Yach, management waktu. Bukan hanya pengaturan financial yang butuh management, bukan hanya pemasaran, tetapi management waktu jauh lebih penting. Bagaimana kita mengkodisikan diri kita sendiri sedemikian rupa. Mulai dari bangun tidur di waktu subuh menjelang tidur malam hari lagi. Memanage kapan harus bekerja, istirahat, mencari hiburan ataupun menyendiri. Harus ada management waktu yang kondusif dari diri kita sendiri. Agar tidak terlalu capek dan semua bisa dikerjakan secara maksimal dengan waktu yang singkat.
Ada yang pernah bilang bahwa “saya tidak punya waktu yang cukup“ ; “Rasanya 24 jam terlalu singkat“. Dua puluh empat jam tidak cukup itu hanya untuk orang yang sedang jatuh cinta. Apa yang sebenarnya membuat anda seolah kekurangan waktu? Yup. Buruknya anda mengolah waktu. Management waktu. Jika anda mampu mengaturnya secara baik saya yakin anda akan punya banyak waktu senggang untuk diri anda sendiri.
Oleh karena pentingnya management waktu untuk diri anda dan saya sendiri juga. Mulai sekarang aturlah waktu sebaik mungkin.
“Kesempatan bisa saja kita ciptakan dengan mencari peluang tetapi waktu yang terbuang tidak bisa kita minta gantinya dan tidak ada yang mampu menciptakan ataupun mengulang detik yang sama setiap harinya.“
Seperti awan-awan dilangit. Ia menggumpal dengan segala bentuknya di atas sana. Lalu harus rela tertiup angin menjadi hujan manakala ia sedang asyik memamerkan bentuknya yang indah. Awan turun menjadi air hujan, jatuh ke daratan mengalir ke sungai dan kemudian mengalir ke laut lepas. Dipanasi matahari, ia menguap. Menjadi awan yang berduyun-duyun berarak di langit kembali. Ini perjalanannya.
Awan tidak pernah berhenti, ia tidak juga hilang. Hanya berubah bentuk dan nama di tempat yang berbeda. Awan tidak menolak ketika ia harus berubah menjadi hitam kelam diantara kilat dan petir. Awan tidak jua melawan ketika angin menjadikannya tiada. Awan menerimanya, karena ia tahu akan perannya di langit sana. Dari yang ada akan menuju tiada sampai akhirnya menjadi ada.
Segala sesuatu di alam semesta ini berhubungan. Seperti lingkaran yang tidak terputus. Tidak ada sesuatu apapun yang terjadi secara “kebetulan“. Alam memainkan peranannya dengan apik.
Setiap manusia sebenarnya bisa berkomunikasi dengan alam. Ia menghadirkannya melalui firasat. Melalui angin. Sinar matahari. Tunas bersemi. Lautan biru. Gunung nan hijau. Alam berbicara. Tapi kadang kita yang enggan mendengarnya. Apakah kau pernah sesekali berbicara kepada daun? Yach, seperti filosofi sebuah daun yang dulu sempat aku tuliskan. Untukmu. Untuk aku dan saya. Untuk kita.
Daun pun tak pernah benar-benar luruh dan menghilang dari kehidupan alam. Ia jatuh menjadi busuk. Berubah menjadi humus. Kandungan mikroba di dalamnya berperan sebagai mineral dan nutrisi pertumbuhan tumbuhan. Tumbuhan menghasilkan udara. Menghasilkan bahan makanan. Bahan tekstil. Bahan kerajinan dan lainnya. Bahkan jika kita jeli disetiap helai benang yang kita kenakan ada peran daun disana.
Hidup yang tidak seperti garis lurus. Tetapi lingkaran. Lingkaran. Adakalanya engkau pun akan bertemu dengan orang yang telah lama kalian lupakan keberadaannya. Ada waktunya kita akan menemukan bagaimana peran kita yang sebenarnya dalam lingkaran ini.
Senyum ramah itu seperti sebuah magnet. Secara alami tanpa kita minta ia akan menarik orang lain untuk dekat dan ingin bersahabat. Seperti halnya medan magnet yang dibentuk dengan menggerakan muatan listrik (arus listrik) yang menyebabkan munculnya gaya di muatan listrik yang bergerak lainnya, maka muatan listrik dari senyum ramah itu ialah ketulusan. Sikap terbuka dan memang benar-benar senyum yang dipersembahkan dari nuraninya. Bukan senyuman racun, menusuk bahkan membunuh dibelakang sambil menyuapkan sepotong roti ditangannya.
Putaran mekanika kuantum dari satu partikel membentuk medan magnet dan putaran itu dipengaruhi oleh dirinya sendiri seperti arus listrik; inilah yang menyebabkan medan magnet dari ferromagnet "permanen". Demikian pun dengan manusia, ketertarikan seseorang terhadap dirinya lebih banyak dipengaruhi oleh sifat alamiahnya. Salah satunya ialah senyum ramah tadi. Secara tanpa sengaja siapapun yang melihat senyum ramah akan lebih merasa nyaman, tentram untuk memandang. Pengaruhnya sangat besar, seketika bisa saja membuat orang yang tidak kita kenal tiba-tiba mengulurkan tangan menawarkan sebuah pertemanan.
Sebuah medan magnet adalah medan vektor, yaitu berhubungan dengan setiap titik dalam ruang vektor yang dapat berubah menurut waktu. Pun demikian dengan sifat ramah manusia itu, ia berkembang dan bahkan berubah selaras berjalannya waktu. Bisa jadi bertambah lebih ramah dan mendamaikan atau bisa jadi uang tadinya ramah berubah menjadi berlawanan arah. Acuh dan sangat tidak bersahabat. Faktor-faktor didalam perjalanan pertemanan itulah yang mempengaruhinya. Teman baru itu datang seperti solenoida (kumparan kawat berbentuk tabung panjang dengan lilitan yang sangat rapat), kemudian waktu dan perlakuan berperan seperti aliran listrik. Jika ia datang searah (DC) ia mampu menjadikan benda-benda seperti besi menjadi magnet yang baru. Tetapi jika alirannya bolak balik (AC) justru akan menghilangkan sifat magnetik itu sendiri. Jika senyuman ramah ialah magnet maka perlakuanmu ialah aliran listriknya, mau dibawa kemana arahnya itu yang menentukan.
There has been a transformation in the management of the public sectors of advanced countries . The traditional model of public administration, which predominated for most of the twentieth century, has changed since the mid-1980s to a flexible, market based form of public management. This is not simply a matter of reform or a minor change in management style, but a change in the role of government in society and the relationship between government and citizenery. Traditional public administration has been discredited theoretically and practically, and adoption of new forms of public management means the emergence of a new paradigm in the public sector.
This new paradigm poses a direct challenge to several of what had previously been regarded as fundamental principles of traditional public administration. The first of these was that of bureaucracy, that governments should organize them selves according to the hierarchical, bureaucratic principles moat clearly enunciated in the classic ananlysis of bureaucracy by the German sociologist Max Weber (Gerth and Mills, 1970).
So, how was public management in Developing Countries?
Even if the public management reforms are appropriate for developed countries, these is still the question as to whether managerialism is applicable in developing countries. It can't be assumed that a style of management started in the developed countries of the West would necessarily work in such a different setting. It is possible that the new public management is culturally bound in a way that restricts its utility in lesser-developed countries.
In addition, along with a bureaucratic approach to administration, most developing countries adopted the principle of a strong state sector in the economy, in many cases allied with the t then-prevailing ideas of socialism and Marxism. It was thought that the fastest way of achieving economic growth was through government ownership of enterprise, intervention in the private economy and dominance by a bureacratic technocracy. In general, this strategy failed. As World Bank argued (1997, p.2):
“In a few countries, things have indeed worked out more or less as the technocrats expected. But in many countries outcomes were very different. Governments embarked on fanciful schemes. Private investors, lacking confidence in public policies or in the steadfastness of leaders, held back. Powerful rules acted arbitrarily. Corruption became endemic. Development faltered, poverty endured.“
Government loomed large in economic activity, but didn't have the competence or standing to be successful and its larger role enchanced the power of the bureaucracy even more than in Western countries. Govermnet became by far the mos important societal actor. This need to change.
Whether managerial principles will work in developing countries as they have in the West is far from clear. Indeed, it is argued by same critics that new public management doesn't work in developed countries, let alone developing ones. They may be some danger in adopting new managerialist approaches yet, the traditional bureaucratic model was not a great success in developing countries either.
In addition, the seeming success of the Soviet Union and China, with their particular models of economic development, seemed to provide an alternative system for many developning countries. These also promised something different from models of the former colonial. power, itself highly state-centric by comparison to what followed after the public sector regorms. In rhetoric, Soviet and Chinese socialism appeared to promise a path for developing countries and with the Third World an ideological battleground during the Cold War, adviced tries chose the socialist side and gained some benefits, such as the Tazman railway constructed by the Chinese in Tanzania in the early 1970s. Tanzania tried to follow other parts of the Chinese model, although the latter was starting to make its own transition from Maoism. Superpower conflict through Third cost of programmes to allevieate poverty, this led to the military itself becoming an important part of the bureaucracy and even the economy.
Bureaucracies were particularly important in developing countries, but at a cost to the nation. Public employement accounted for over 50% of non agricultural jobs in Africa, 36% in Asia, and 27 % in Latin America, and in 1986 the wage bill for Guinea's civil servants accounted for 50% of total current expenditure )Smith, 1996, pg 221). The bureaucracy often operated at a remove from its own society and constituded an elite with its counterparts in the West and with foreign corporations than with its own people. Although not part of the traditional model, corruption became endemic as public servants followed their own interests. Public service pay was low and it became common,as for example in Indonesia, for public servants to have additional jobs in the private sector as well as in government employ. They sancionts against corruption were weak, so it is hardly surprising that individual public servans sought to enrich themselves.
Ref:
*Public Management and Administration by Owen. E. Hughes profesor of Public Sector Management, Monash University, Australia.
*FINANCIAL MANAGEMENT, Principles and Application by Keown/Martin/Petty/Scott, JR
Manusia, antara menilai dan penilaian. Apa yang sebenarnya terjadi dibalik sikap “penghakiman“?
Kecenderungan manusia untuk “menghakimi” dalam arti melabeli, mengkritik, menghukum, dan sebagainya dalam memberikan sebuah penilaiannya. Penilaian kita terhadap orang lain memainkan peran penting dalam mendorong pemisahan diantara kita. Pemisahan yang dimaksud adalah bagiamana kadar reaksi otak kita mengelompokan orang tersebut dalam lingkaran kita.
Untuk alasan apa pun, pikiran kita agaknya memiliki apa yang tampaknya menjadi kecenderungan alami untuk memberikan penilaian pada orang, tempat, situasi, dll. Meskipun tidak ada seorang pun yang ingin dianggap menghakimi, sepertinya deskripsi ini membawa konotasi yang sangat negatif, faktanya adalah bahwa semua orang pernah menghakimi. Termasuk saya dan anda, bukan? Pada dasarnya adalah mustahil untuk sepenuhnya menghindari melakukan penilaian, karena kenyataannya hampir setiap pikiran kita memiliki beberapa penilaian yang terkait.
Kita menilai bahwa seporsi makanan itu enak dan tidak, menilai bahwa si A itu baik atau tidak, bahwa bunga Lili lebih menarik dari Kamboja. Semua ini adalah bentuk penilaian kita, penilaian terhadap materi ataupun bukan.
Namun, sangat penting di sini untuk membuat perbedaan antara istilah penilaian dan observasi. Penilaian melibatkan pendapat kita bersama dengan emosi, sedangkan observasi hanya melibatkan komentar pada apa yang kita perhatikan.
Dalam setiap peristiwa, langkah pertama dalam mengenali kecenderungan kita untuk menilai adalah dengan mengakui kepada diri sendiri bahwa kita sedang melakukan penilaian. Hal ini tidak berarti dengan cara apapun bahwa kita adalah orang yang menghakimi, melainkan hanya berarti bahwa anda mengakui kecenderungan perilaku ini bukan menyangkal.
Hanya ketika kita sadar untuk menerima bahwa kita melakukan penghakiman secara teratur, kita dapat mulai untuk menjadi lebih sadar ketika kita melakukannya. Hal ini juga sangat penting untuk memahami tentang apa arti menilai orang lain.
Secara khusus, alasan kita menilai orang lain adalah bahwa kita melihat mereka, bukan sebagai mereka, tetapi seperti kita. Dengan kata lain, kita memfilter mereka melalui sistem keyakinan kita. Oleh karena itu, penilaian kita tidak benar-benar mengatakan apa-apa tentang orang lain; mereka hanya menggambarkan apa persepsi kita. Setiap kali seseorang berbuat tidak ‘sesuai’ dengan standar pribadi kita, kita secara otomatis memberi semacam penilaian pada mereka.
Pada intinya ketika kita dengan sangat gampang menjugde seseorang itu keliru atau katakanlah salah dan sesat hal ini semata-mata pendapat kita bersumber dari “keakuan saja“. Lalu mengapa kita tidak mencoba lebih open mind dan memandang sesuatunya dari sisi yang berbeda (diluar standarisasi pikiran kita).
Seperti halnya seseorang yang berlagak begitu tahu mengenai fisika kuantum tetapi hanya memberikan penjelasan yang sifatnya sepotong-potong tanpa sebuah observasi yang bergerak diluar lingkarannya. Maka yang demikian hanya akan terasa “nampak sebagai ahli“ saja, bukan?
Pada dasarnya seorang yang benar-benar ahli dan paham tidak akan memberikan penilaian tanpa sebuah penjelasan jika memang si A yang kita nilai itu memiliki kekeliruan.
“Cewek Matre“ tentu kata ini sangat dekat di telinga kita semua, dan seeing kali dihindari oleh para laki-laki untuk mencari pendamping hidupnya. Sifat alamiah manusia, terutama adalah perempuan yaitu materialis. Maka, yang mengatakan bahwa tidak semua perempuan itu matre adalah golongan muna. Yang membedakan hanyalah tingkat materialismenya, apakah perempuan itu mampu mengendalikannya atau justru mendewakan paham materialisme didalam dihidupnya. Yang sangat berbahaya jika perempuan sudah menjadikan materialisme sebagai patokan utama segala unsur dalam kehidupannya.
Materialisme sendiri merupakan pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata, dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Artinya segalanya diukur dari uang, harta dan sejenisnya. Materialisme mendasarkan semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi.
Maka berdasar teori, materialisme termasuk paham ontologi monistik. Akan tetapi, materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme.Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme. Materialisme tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial. Paham ini sendiri mendapat dukungan dari para filsuf seperti Epikuros, Demokritos dan Lucretius Carus yang tidak jauh berbeda dengan materialisme yang berkembang di Perancis pada masa pencerahan. Kita bisa membaca karangan La Mettrie yang berjudul L'homme machine (manusia mesin) dan L'homme plante (manusia tumbuhan) sebagai bentuk karangan yang mewakili paham ini.
Yang perlu ditekankan ialah memang dalam hidup kita memerlukan materi, bahkan saat kita berpikir pun kita tetap memerlukan otak sebagai bentuk materi untuk mendukungnya. Tetapi, haruslah kita mampu menguasai sifat materialis itu sendiri atau akan terjadi hirearki terbalik, “Materi membunuh anda“. Penguasaan diri terhadap sifat ini sangatlah perlu, apalagi kaitannya kepada kita yang perempuan tetapi lelaki pun juga perlu. Karena apa? Sebagai perempuan, kitalah yang akan menjadi penggerak mesin-mesin operasional kehidupan rumah tangga. Menanamkan mental dan juga pemikiran kepada anak2, jika sebagai perempuan kita tidak mampu mengendalikan sifat materialis maka hal ini akan sangat buruk dampaknya terhadap lingkungan keluarga kita. Sebagai mesin kontrol utama yang menanamkan dasar-dasar pemahaman kepada anak2 jangan sampai anak2 tersesat dalam paham materialisme yang tak terkendali. Tidak ada satu pun manusia apalagi perempuan yang tidak punya sifat materialis, karena segala keperluan hidup yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani tidak dapat terpenuhi hanya dengan berdo'a tanpa adanya usaha untuk memenuhinya, dalam hal ini bisa dengan bekerja.
Telaah tembang Pangkur Bait kedua dari Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV pupuh 2 Pangkur.
“ Jinejer ing Wedhatama,
mrih tan kemba kembenganing pambudi,mangka nadyan tuwa pikun,
yen tan mikani rasa,
yekti sepi sepa lir sepah asamun,
samangsane pakumpulan,
gonyak-ganyuk nglelingsemi.“
Artinya:
“disusun di ajaran utama,
tidak boleh malas bermandikan budi kebaikan,
maka walaupun tua dan pikun,
kalau tidak mengolah rasa,
sungguh sepi dan hampa seperti sampah tersembunyi,
ketika diperkumpulan,
serba canggung dan memalukan“
Wedhatama bisa berarti ajaran yg utama yaitu ajaran budi pekerti atau akhlak mulia, akhlak mulia itu adalah inti dari ajaran Islam selain ajaran tauhid yaitu berserah diri kepadaNya. Apabila kita melakoni ajaran wedhatama maka jangan kita menghindar dari perbuatan baik dengan alasan apapun, kalau kita berniat bersedekah maka lakukanlah secepatnya sebelum niat itu luntur, apabila telah datang waktu sholat maka bersegeralah tunaikan sholat tanpa ditunda tunda, apabila kita menunda nunda kebaikan maka Allah juga akan menunda rejeki yg datang kepada kita demikian pula dengan sebaliknya.
Apabila kita sudah tua dan pikun tapi belum mengolah rahsa (hati terdalam/sirri) maka akan meyesal nantinya, tua dan pikun ini bisa berarti sudah mumpuni dibidangnya, sebagai contoh seorang profesor astronomi ketika mengetahui rahasia terdalam dari astronomi tanpa dilandasi ilmu mengolah hati terdalam maka kebingunganlah yg didapat karena hanya akal yg dipakai tanpa menggunakan hati, akal ketika berhadapan dengan yg tak terhingga akan mentok dan pusing, proofesor astronomi tersebut akan gamang dan bingung ketika menjelaskan teorinya dihadapan rekan2 sejawatnya karena teori tersebut hanya sebatas akal tanpa dilandasi nurani, maka gugurlah teori tersebut dan digantikan teori lain yg lebih sempurna. Intinya adalah segala ilmu pengetahuan kita hendaknya bersandar pada kebesaran dan kekuasaan Illahi supaya tidak bingung serta hampa tidak berguna dan pada akhirnya akan malu sendiri.
Makna bait pertama tembang Pangkur yang diambil dari Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV pupuh 1 Pangkur.
“Mingkar-mingkuring angkara,
akarana karenan mardi siwi,
sinawung resmining kidung,
sinuba sinukarta,
mrih kretarta pakartining ilmu luhung,
kang tumrap ing tanah Jawa,
agama ageming aji.“
Yang artinya:
menghindari sifat jahat,
sebab senang membimbing anak,
dirangkum ke dalam sebuah kidung,
dihormati dan dimuliakan,
supaya tercapai maksud dari ilmu luhur,
bagi tanah jawa,
agama adalah busana berharga.
Maksudnya adalah:
Sifat jahat adalah sifat yang menganiaya diri sendiri dan berakibat pada orang lain, hendaknya ajaran untuk menghindari sifat jahat didalam diri kita ini diajarkan kepada anak2 kita kelak (karena saya belum beranak bagi yang sudah beranak lebih baik ajarkan segera). Ajarkan dengan sepenuh hati dan ikhlas (mardi siwi) dan dalam pengajaran kepada anak kita termasuk didalamnya adalah siswa atau murid itu dengan cara seindah mungkin dan sesistematis mungkin, tiada cara lain kecuali kita sebagai orang tua harus memberi contoh kepada anak/siswa, ibarat kata guru kencing berdiri, murid kencing berlari.
Dari segala pengajaran2 kita terhadap anak/siswa maka hendaknya berujung pada tujuan yaitu ilmu berbudi luhur atau akhlak mulia, didalam agama Islam sunnah yg paling utama adalah akhlak mulia, orang bisa saja menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya sepersis mungkin dengan apa yg diajarkan nabi Muhammad, tapi itu semua tanpa diiringi dengan akhlak mulia maka hampir tidak ada artinya segala amal ibadah kita, lalu apa yg dimaksud akhlak mulia itu? Akhlak adalah ruh dari perilaku atau perbuatan, segala perbuatan kita mencerminkan akhlak kita dan akhlak kita akan dipantulkan oleh perilaku kita walaupun tidak semua perbuatan yang kelihatannya jahat maka itu jahat.
Lalu bagaimana membentuk akhlak mulia itu, dimulai dari diri sendiri yaitu bersihkanlah hati dari kotoran2nya, jauhkanlah dari sifat sombong dan merasa benar sendiri, ini penting bagi para pendakwah atau da'i, lalu bertawaduklah kepada segala ciptaanNya, sesungguhnya didalam segala ciptaanNya terkandung perumpamaan2, manfaat dan hikmah yg besar apabila kita mengetahuinya, lalu ikhlaskan segala amal perbuatan kita karena Allah, ikhlas itu berarti ego pribadi dan kepemilikan kita sudah nol, apabila segala harta benda serta amal kita sudah kita nol kan dalam arti kepemilikannya sudah bukan milik kita lagi maka ibarat kita memiliki dunia dan seisinya (demuwe) dan menjadi tak terhingga seperti dibagi nol, bilangan berapapun kalau dibagi nol maka hasilnya menjadi tak terhingga.
Setelah itu lalu sabar, sabar dalam beramal sholeh serta sabar dalam menuai hasilnya, ibarat kita menanam mangga dan menggunakan ilmu2 pertanian untuk menanam serta memupuknya maka kita harus bersabar dan yakinlah bahwa biji mangga yg kita tanam akan tumbuh pohon mangga, tidak cukup kita wirid/dzikir "mangga, mangga, mangga, dst" tapi biji mangganya tidak kita tanam, kita siram dan kita pupuk itulah makna dari kesabaran.
Setelah itu adalah syukur, bersyukur dengan segala yg kita dapat, hasil akhir adalah tidak penting, yg penting adalah usaha dan doa kita sudah maksimal walaupun apa yg kita harapkan belum kita dapatkan, tapi kalau kita syukuri maka nikmat sekecil apapun akan menjadi besar.
Tanah jawa yang dimaksud disini secara geografis adalah pulau jawa, bukan suku jawa, orang jawa dari dulu menganggap bahwa pulau jawa itu tanah jawa, tapi yg terpenting adalah makna filosofi dari jawa yaitu jiwo kang kajawi atau ruh yang mendominasi tubuh atau warangka manjing curigo, maknanya adalah ketika kesadaran ruhani kita mendominasi kesadaran tubuh kita maka segala amal perbuatan kita akan bertujuan pada akherat yaitu Allah lah tujuan kita, berkesadaran ruhani itu juga bermakna meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia, segala ujian didunia telah kita lampaui dan kita sudah menemukan sandaran dan prinsip hidup yg mapan serta sudah bisa menyimpulkan awal akhir kehidupan.
Agama adalah busana yg berharga bagi orang jawa, sekali lagi jawa itu tidak hanya nama suku/pulau tapi sebuah kesadaran jiwo kang kajawi (ruh yg mendominasi tubuh). Selama ini kita selalu terkotak kotak dengan kitab garing (kering) atau kitab yg tersurat seperti Al Qur'an, Injil, Zabur, Wedha, Tripitaka, Taurat, tapi tanpa kita sadari hanya berpedoman pada kitab kering maka manusia saling merasa benar sendiri lalu menghakimi orang lain yg tidak sependapat dengan kata2 yg memojokkan (kafir, musyrik, bid'ah dsb) dan pada akhirnya berperang satu sama lain, padahal belum tentu tuduhan2 semacam itu benar, bisa jadi yg menghakimi itu salah. Maka dari itu perlu kita berpedoman pada kitab teles (basah) yaitu kitab yg tersirat, sesuai namanya kitab teles itu basah dan meresap bagai air kesemua ajaran agama dan juga tidak terlihat secara fisik tapi nyata seperti kejujuran, kebaikan, keadilan, akhlak mulia, saling menghargai satu sama lain dsb. Bagi orang jawa semua agama yg masuk ke tanah jawa adalah sama, ajaran kejawen itu bersifat ngemong dengan segala agama yg masuk dan semuanya sama, maka dari itu toleransi antar umat beragama sudah terjalin pada waktu kerajaan Majapahit bahkan sebelumnya, oleh karena itu aneh apabila umat beragama sekarang malah saling merasa paling benar sendiri dan dengan mudahnya menghakimi umat/kelompok lain yg tidak sependapat atau sepaham dan itu adalah budaya jahiliyah bukan budaya asli Nusantara. Agak sulit kalau semua saling mengaku paling benar, kita sering terjebak pemahaman salah satu hadits nabi yg mengatakan umatnya akan terpecah menjadi 73 dan hanya satu yg selamat yaitu ahlussunah wal jama'ah, dari hadits tersebut maka faham2 serta aliran2 islam berbondong bondong mengaku ahlussunnah wal jama'ah dan terjebak pada pengakuan yang sepihak tersebut tanpa disadari bahwa apabila kita mengaku aku paling benar dan menuduh yg tidak sealiran itu salah maka secara tidak sadar pula kita telah menyempalkan diri dari jama'ah islamiyah, maka insya Allah semuanya benar dan yg salah yg mengaku paling benar dan menganggap lainnya salah, ingatlah juga bahwa kebenaran hakiki itu hanya milik Tuhan.
Seperti kisah para pejalan, ia selalu yakin bahwa Dia-nya Nu Agung memberikan sebuah jalan yang terbaik. Dan Dia sudah barang tentu lebih paham jalan mana yang memang paling baik untuk kita lalui. Tetapi sebagai pejalan ia harus juga mampu meyakinkan diri bahwa jalan ini adalah jalan yang terbaik. Sebab tanpa ia mau turut serta dalam keyakinan itu jalan itu tidaklah akan menjadi sebuah jalan yang baik.
DIA nu Esa telah menyediakan jalurnya namun si pejalanlah yang harus datang dan melewatinya sendiri. Ia tidak bisa hanya sekedar mendengar dan mendengar dari cerita pejalan lainnya. Sebab jalanan tidak akan menghampiri para pejalan, jalanan hanya siap dilalui oleh para pejalan yang memang beniat memilihnya sebagai jalan.
Maka dalam perjalanannya si pejalan itu memutuskan melewati jalanan dengan jalan kaki, sepeda “onthel“, motor, gerobak, becak, mobil, truk, bus, ataupun kereta. Maka jaraknya tidak sekalipun berubah, tidak juga medannya, tetapi hanya cara dari masing-masing pejalan yang tak sama. Cara itulah yang pada akhirnya membawa si pejalan dalam sebuah pengalaman yang tak pernah sama diantara banyaknya pejalan.
Pada ujung jalan tentu ada sebuah tujuan yang sama. Namun, dalam perjalanannya mungkin juga ada yang jatuh, ada yang berbelok, ada yang capek, ada yang kembali pulang, ada yang menyerah dan ada yang tetap terus berjalan. Maka, hanya si pejalan tertentulah yang akan tahu apa yang sebenarnya berada diujung jalan. Karena dengan bekal yakin dan ketekadannya meski jalan kaki ia tetap melangkah. Dalam keyakinannya bahwa memang ini adalah jalan terbaik baginya. Sehingga pada akhir perjalanannya ia tak akan mampu bercerita sebab takjub oleh pencapaian diujung jalan, sebab si pejalan ini yakin bahwa setiap pengalaman “perjalanan“ tidak selalu bisa dituturkan secara lisan.
Wahai Kekasih,
Jika sujudku adalah bentuk rasa takut api nerakaMu,
maka hanguskanlah aku di dalamnya,
lebur tulangku hingga tak ada sisanya.
Ini adalah ingkar dari cintaku kepadaMu, Kekasih.
Ini nyata atas penghianatan cintaMu.
Karena bila begitu,
Rasa takutku lebih kuat dari cintaMu
dan cintaku hanyalah buaian palsu.
Wahai kekasih,
Dan jika memujaMu adalah harapan atas firdausMu,
haramkanlah aku menginjak kedalamnya.
Jauhkan aku bahkan dari semerbak wangi mencumbunya itu.
Sebab bila begini,
ego adalah penguasaku yang meluruhkan cintaku mencintaimu, Kekasih.
Malu aku mengangkat muka mengakuiMu, Kekasihku.
Nyatanya Engkau tidak mengharap apapun atas cintaMu,
Sedang bila begitu cintaku hanyanyalah esensi semu.
Wahai kekasih,
Sebelum terbit fajar Engkau adalah Kekasihku,
Pada setonggak tongkat Engkau masih Kekasihku,
Pada ubun-ubun menyengat Engkau tetap Kekasihku,
Pada surya condong ke barat Engkau juga Kekasihku.
Pada surup suara-suara akhir senja Engkau masih selalu Kekasihku.
Pada malam peristirahat Engkaulah Kekasihku.
Jika kasihku adalah palsu, maka kutuklah aku.
Semau-mau yang Engkau mau,
Karena Kekasihku adalah pemilikku, utuh.
Wahai Kekasih,
Jika sujudku karena kecintaanku padaMu,
Jika aku memujaMu karena kecintaanku kepadaMu,
Maka pintaku tak lebih dari satu,
Tetaplah menjadi Kekasihku.
Meski nerakaMu akan jadi surgaKu,
Telah ku lepas keinginan itu.
Nyatanya neraka pun adalah bagian kerajaanMu,
Dan disanapun aku adalah bagian milikMu.
Jika pun surga kau berikan padaku,
Biarlah aku cukup tinggal untuk semakin mencintaiMu, Kekasihku.
Ayda Idaa
BraemarHill, 17 Maret 2013
22:42pm.
Awal musim semi yang menyejukan, aroma tulip terasa menyengat di hidung siapa saja. Kincir-kincir angin masih berdiri kokoh disana. Negeri kincir angin, itulah yang menjadi sebutan tempat kelahiran Kevin 23tahun yang lalu. Kevin Vanderbilt seorang pemuda Indo-Belanda.
Pada umur 5th mamanya membawa Kevin pulang ke Surabaya hingga ia menyelesaikan sekolah SMA. Papanya David Vanderbilt seorang arkeolog memintanya kembali ke Holland untuk kuliah disana. Kevin hanya menuruti meskipun ia sayang sekali meninggalkan Oma sendirian. Sementara kakanya Anne telah menikah dengan seorang perwira TNI dan mengikuti suaminya dinas ke Ambon. Kini Arini Herdiansyah Vanderbilt konsentrasi penuh kepada anak laki-lakinya.
Belanda merupakan bekas jajahan Spanyol namun telah terlepas pada masa pemerintahan Philip II dan sebelumnya pernah masuk ke Perancis pada masa pemerintahan Napoleon Bonaparte. Negara yang berada pada ketinggian 321m dibawah permukaan laut. Disanalah tempat kelahiran pelukis handal seperti Rembrandt Van Rijn.
Den Haag, 5tahun yang lalu.
Sebuah mobil melewati kawasan Den Haag atau dalam bahasa orang barat disebut dengan The Hague, tapi orang Indonesia lebih menyebutnya Den Haag. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang melintasi kawasan kastil Ridderzaal hingga istana Stadhouder. Deen haag merupakan tempat Staten General (Organ pemerintahan tertinggi di Belanda). Di sana pula tempat tinggal para bangsawan Belanda. Sebuah kota terbesar ke 3 setelah Amsterdam dan Rotterdam. Kota yang berciri khas dengan sistem aristokratisnya. Penduduknya di sebut Hagenees.
"Pa, stop. Stop...!" Kevin berteriak dan seakan mengkomando papanya berhenti.
"Nederland is geweldig " lanjutnya. Belanda memang mengagumkan maksudnya.
"Papa harap kamu akan betah belajar disini" kata David menepuk pundak anaknya yg duduk disampingnya.
Sementara Kevin masih bengong menikmati panorama Mesdag. Dia turun dan diikuti Papa, Mama, Anne dan Alex kakak iparnya.
"Maar ik hou van Indonesie." kata Anne sambil bergelayut di lengan suaminya. Artinya "Tapi aku cinta Indonesia.
"Yeyeee.... pastilah gua juga tahu alasanya tuh. Si pak Al." ledek Kevin sambil bergaya menirukan lagak Alex sebagai tentara.
Kontan saja Anne meninjunya hingga Kevin cukup mengerang 'auh'.
"Hoe dan ook, hier ook de geboor te plaats van Papa" Arini melerai. Sudahlah, ini juga tempat kelahiran Papa.
"Pa, Als ik afgestudeerd ik will zijn als papa" Ketika aku lulus nanti aku ingin seperti Papa itu maksudnya Kevin.
"Ik weet zeker dat je zal zijn sterker dan ik, ijverig studeren" kata David dengan bangga merangkul pundak Kevin.
'Kamu pasti bisa lebih hebat dariku, rajinlah belajar. Itu yang dikatakan papa, selalu membuatku ingin membanggakannya. Pa, aku pasti bisa.' Janji kevin di hati.
Kevin berhasil lolos pada seleksi di Universitas tertua Belanda. Kabarnya dulu Wihelmina ratu Belanda pun pernah belajar disana. Termasuk Sultan HamengkuBuwono IX dan Sri Paduka Mangkunegara VII. Universitas Leiden.
******
Tinggal di Den Haag membuat Kevin betah dan lebih semangat, apalagi jurusan arkeologi yang diambilnya sesuai dengan profesi papanya yang seorang arkeolog. Seperti mendapat angin. Sesekali mereka berbarengan ke Museum Beelden Aan Zee atau mengitari Amsterdam yang tak jauh dari Den Haag ya mungkin sekitar 61 km butuh 56an menit saja.
Mama selalu setia mengajaknya ke gereja, ya mama seorang yang sangat taat dengan ajarannya. Selalu mengingatkan ini baik dan itu tidak bahkan hingga tahun kedua mama tetap setia mengingatkan.
Sore itu pukul 18.30 waktu Holland, mama masih melakukan kebaktian di gereja Grote Kerk (Gereja Agung Den Haag). Mendekati natal, musim dingin yang penuh salju dimana mana. Kevin bersama mamanya didalam berdo'a dengan khusyuk untuk kelulusan Kevin. Kevin pun begitu hikmatnya.
Mereka keluar dengan baju dingin kedua tangan dimasukan ke saku, dinginnya hingga mencapai dibawah minus 2. Jalanan berasa lebih sepi, ya mungkin karena ini lagi hujan salju. Tapi mama masih tetap ngeyel mengajaknya ke Gereja. Bahkan tak ada taxi yang lewat. Sepi sekali jalanan. Mereka mampir ke kafe untuk membeli makanan dan minuman hangat. Suasana tampak tenang dan damai, Kevin pun menyantap makanannya dengan santai.
Dorr...dorr...dorr...., beberapa kali terdengar suara tembakan. Rupanya ada kerusuhan, ada segerombol perampok yang habis menjarah bank dan melarikan diri. Polisi mengejarnya.
Para penjahat itu masuk ke kafe dan...
"Mama?" Kevin tersadar mama tak ada lagi disampingnya semua orang sedang panik.
"Kevin. Kevin. Keviiinnnnn" mama bingung mencari anaknya.
Hiruk pikuk menyepelekan dingin yang membekukan darah. Semua berlarian mencari tempat aman, Kevin berusaha mencari mama didalam tapi tak ada dia berlari keluar menyerobot walau petugas melarangnya. Di luar berbahaya.
Dia berteriak dengan kencanngnya. Dan segerombolan mafia berlari dari seberang sambil membawa pistol, mengcungkan pistolnya kearah siapa pun dan sesekali menembakannya.
"Keviiinnnnn, awasssssss" Arini berlari kearah Kevin . Dan tiba2 sebuah tembakan keras dari polisi nyasar ke tubuhnya. Kevin menjerit berlari ke arah mama, dan Dooorrrrrr...... tembakan dari si rampok tepat mengenai perut mama. Kevin berlari ke arah mama saat kawanan itu menabrak tubuh mama yang sempoyongan tak berdaya. Polisi hanya sibuk mengejar penjahat itu tanpa peduli dengan mama.
Warna putih salju menjadi merah, darah segar mengalir deras. Kevin memeluk mamanya dan menangis tanpa ada yang peduli dengan teriakan 'help me' darinya. Hujan salju jatuh, gumpalan putihnya tepat mengenai pipi mama. Di usapnya pelan sambil di dengarnya perempuan itu bicara terbata-bata.
Pandangannya sinis tatapan matanya tajam penuh sorot kebencian, benci dengan orang-orang dan semuanya yang tak peduli. Bahkan pun tak peduli gumamnya.
"Arrrrrgghhhhhhhhh...., Setan lo semuanya" Di gendongnya mama, tubuh itu masih bercucuran darah. Rumah sakit, ah masih cukup jauh.
"Ini gak adil, GAK adil." teriakannya membelah salju. Ia mengerang dan menjerit lalu menangis, tak peduli amuk polisi berkeliaran tak peduli dengan banyaknya wartawan yang memotret sana sini. Entah dalam sekejap dari mna mereka datang. Tubuh perempuan itu masih terkulai, perempuan yang di panggilnya mama.
"Apa itu Tuhan. Mama bilang engkau itu pengasih argghhhhhhhhh.... shit."
Di goncangnya tubuh mama tapi tak bersuara tak juga bergerak.
"Gua gak percaya Tuhan itu ada" kekecewaan dan kemarahannya menguasai Kevin hingga ia menghujat Tuhan. Ya Tuhan yang memberi hidup pada manusia.
●●●●●
"Mama, mama. Mamaaaaaa......"
Arrgghhhhh.... mimpi itu lagi, datang lagi ke hidupnya. 'Mama' ia mengigau, diambilnya segelas air putih dan diteguknya.
Ia berjalan kearah jendela, Langit cerah. Hangat. Tapi hatinya menjadi begitu dingin.
Dinginnya melebihi es.
Di kawasan jalan Sumatera itu berdiri sebuah rumah besar yang kokoh, penghuninya cuma dia dan seorang wanita 75an tahun yang di panggilnya oma. Kini orang yang di dekatnya cuma oma.
'Papa sibuk dengan istri barunya. Ah begitu cepat papa melupakan mama. Kak Anne lebih sibuk dengan tugas suaminya ke luar jawa. Orang2 gak ada yang peduli sama gua. Bahkan Tuhan juga gak peduli dan dengerin teriakan gua. Tuli.'
Dia terus menghujat sambil menyulut rokoknya. Sejak kapan Kevin merokok, bukan cuma itu tapi ada bau alkohol disana. Botol-botol anggur dan lainnya berserakan. Mbak Rianah kerap kali menemukan botol-botol whiskey, Johny walker, Hennessy, Brendi, ataupun vodca dan tentu lainnya tak di ingatnya lagi satu demi satu.
Tok...tokk...tokk.... terdengar pintu di ketuk.
Anah masih melihat kondisi kamar yang seperti biasanya, selalu berantakan. Ada sepatu di di atas meja, gelas dengan separo minuman yang menyengat, putung-putung rokok. Rak DvD pun ambruk semua isinya berserakan di depan tv, sofa di kmar itu di penuhi pakaian kotornya.
"Makan siang sudah siap den. Di tunggu oma" katanya pelan. Mata elang kecoklatan itu memandangnya tajam walau masih nampak kekosongan.
"Iya mbak, bilangin oma gua mandi dulu." ucapnya memerintah.
Sejak kematian mamanya Kevin berubah aneh, lebih aneh dan semakin aneh. Segala macam keanehan di kerjakan, orang sampai menyebutnya bajingan, brutal, arogan dan playboy. Wajah oriental Indo-Belanda menguntungkannya memikat wanita. Ditambah postur tubuhnya yang atletis, siapa pun akan terpikat.
'Tuhan lebih sayang sama pembunuh mama, sama penjahat timbang orang setaat mama. Shit' batinnya sambil mematikan putung rokoknya.
Sudah setahun lebih kepindahannya kuliah ke Surabaya tapi Kevin belum juga bisa melupakan mama. Mama yang mencintaknya.
Seusai makan siang Kevin masih tampak malasan di kolam renang di belakang rumah oma. Dia meluncur dari satu sudut kolam ke sudut lainnya. Tanpa ia sadari perempuan renta yang masih terlihat fresh itu memperhatikannya dari lantai dua rumahnya. Kevin sperti ikan, gerakannya lincah. Pantulan sinar matahari menyengat hingga ke mata oma yang cukup rabun rupanya.
"Kamu pasti berat menjalani ini Vin" katanya pelan dibalik jendela.
●●●
Kevin sudah siap dengan setelan jeans biru dan kaos lengan pendek berwarna sedikit lebih cerah. Rambutnya yang lumayan gondrong di ikatnya dengan dengan ala kadarnya. Sepatu putih dan tas ransel berisi kamera besar disabetnya sebuah kacamata hitam dimejanya. "Saatnya beraksi" tangannya bergaya sambil menjuding ke cermin besar di kamarnya.
"Oma, Kevin pergi dulu. Biasa berburu suasana sunset" di raihnya tangan oma dan di ciumnya, kemudian di kecupkan ciuman hangat di kening oma. Sambil menyambar kunci mobilnya ia masih mendengar oma bilang 'Hati2 jangan ngebut'. Badannya berbalik dan memberi isyarak OK dgan jempol dan telunjuk yang membentuk lingkaran.
Mobilnya melaju dengan cepat ke arah Keputih, sekarang dia belajar disana. Mengambil jurusan Teknik Elektro, ITS.
"Hai broer, tumben lo nongol di kampus jam segini" tanya Bram sambil mengernyit heran ke arah Doni.
"Perubahan men, ntar malam kita have fun gua ada kenalan baru buat kalian" katanya riang sambil meneguk segelas cola milik Bembi.
"Have fun, have fun dong. Tapi minuman orang nih jangan di serobot" omel Bembi kesal yang merasa seretan.
"Napa? Marah? ntar deh gua beliin sekalian sama pabriknya"
Sifat loyal Kevin selalu membuat temannya bertahan. Kevin tak pernah perhitungan dengan uang.
Telihat sosok seorang wanita mendekati mereka. Tubuhnya yang elok aduhai bodynya yahurt menghampiri segerombol anak muda itu di kantin kampusnya.
"Hai Tiara"
"Hai cantik"
"Hemm.. perfect" mata Doni hampir saja biru kena tonjokan Kevin. Kerlingan nakalnya membuat Kevin geram.
"Vin, Kita pergi sekarang kan?" tanyanya pelan.
Kevin menarik tangan itu dengan lembut dan merangkulnya menuju parkiran.
Mereka memang pasangan yang serasi.
●●●
Kevin terus saja memotret Tiara yang tersenyum lebar di atas jembatan Suramadu. Kevin tak peduli dengan keramaian jalanan dan terus menjepret. Tiba-tiba sebuah sepeda motor berwarna hijau melaju dengan kencang dari arah madura.
Tiitttt....tiitttt...teettt....
suara klaksonnya keras sekali namun Kevin gak peduli.
Pengendara Ninja itu pun berteriak menyuruhnya minggir.
"Hoee...nyimpang. Nyimpang rek, nyimpang po'o" teriaknya. Kevin tak peduli.
Jarak semakin dekat dan bruukkkkk.... ban depannya tepat menyrempet kaki kiri Kevin. Tak parah, hanya terkilir. Pengendara itu rupanya tepat mngerem motornya.
"Kon, nek kate golek mati lompat jempatan pisan. Ganggu wong motoran ae"
"Tengil loe ngomong apaan loe. Emang ni jalan punya moyang loe?" suara Kevin mengeras.
"Hehh... kon iku goblok tah budek se. Noh tanyain ma cewekmu."
Tiara membantu Kevin bangun.
"Argghhhhhh.... loe msti gantiin kamera gua." perintah Kevin yang melihat kameranya jatuh berantakan.
"Banci lo, turun dari motormu"
"Tadi kan aku wis ngomong rek. Nyimpang NYIMPANG bego" Pengendara itu memberi tekanan pada nada suaranya.
"Apa Ipang?" Tanya Kevin.
"NYIMPANG BUDEK" katanya geram sambil memarkir sepedanya dan meminggirkannya. Dilepasnya helm yang menutup kepalanya.
Wajah asli jawa dengan potongan rambut cepak yang ala kadarnya di ikat karet, tingginya hanya sekitar 160cm. Tubuhnya kecil dan lumayan kurus dibanding Kevin.
"Lapo kon mlilik ae, pengen di culek ta?" katanya kasar.
Kevin hanya mengamati sosok wanita di depannya, yang jauh dari kesan perempuan. Celana komprang, kaos lengan pendek dan jaket kulit berwarna coklat. Tas ransel dan helm berwarna Silver, naik sepeda motor. Pantasnya di sebut preman baginya.
"Sory, gua ga level berantem sama perempuan"
Sambil menarik Tiara ke dalam mobilnya.
Namun wanita tadi masih berdiri, palah sekrang berdiri di depan mobilnya.
"Nyari mampus ni anak" dia keluar.
"Vin, udah jgan diladenin." pinta Tiara.
Sementara Kevin sudah di luar mobil dan beradu mulut dengan wanita itu.
"Cowok bukan cewek bukan, Gak level. GAK level" katanya sambil mengangkat dagu wanita itu dengan kerasnya.
"Yang jelas Loe udah ganggu acara moto gua" tambahnya.
Dia gak nampak kesakitan, dan tanpa di duga sebuah tonjokan keras Buukkk mendarat di pipi kirinya. "Banci loe, anak model kayak loe cuma bisa ngabisin duit ortu. Kutu loe, ngurusi kon gak oleh untung nggo aku. Nek gak trimo golekono aku." katanya menantang. Dia meninggalkan Kevin dan menstater motornya dengan kencang. Sementara Kevin hanya menghafal plat nomer motornya saja.
●●●●
Indak memasuki halaman kostnya dengan penuh kesal. Sambil menuntun motornya "Lapo Ndak, ko manyun." tanya Riry sahabatnya.
"Mari ketemu wong edan. Gendeng ra due udel" Indak nerocos kesal sambil masuk ke kamar.
"Ndak tadi mamahmu telpon, kamu suruh telp dia."
"Peduli setan, Setan aja gak peduli sama aku."
hhhhhh..... dia mendengus.
Mengingat kembali memori hari itu.
************
"Mah, aku ini anaknya siapa?" tanyanya geram.
Pertengkaran sore itu masih teringat saat ia menanyakan keberadaan ayahnya. Ayah yang tak pernah di lihatnya dan setiap hari mamah selalu di antar pulang dengan lelaki yang berbeda. Dia acapkali memergoki mamah berciuman dengan om om di ruang tengah rumahnya. Rumah yang mirip neraka baginya. Hahaaaahhhh.... aku gak pernah minta di lahirin ke dunia. Itulah yang selalu di teriakannya kepada Tuhan. Sampai akhirnya ia tak percaya bahwa Tuhan itu ada.
"Minggattt koe, anak pembawa sial gak ngerti si untung. Minggat" usir mamahnya.
Persetan dengan ayah dan mamah, keduanya cuma makhluk pembawa borok. Setan hidup yang ngelahirin setan kayak aku.
"Hahaa..." dia berbaring sambil tertawa kecut di atas ranjang kostnya.
"Kebo yang gak tahu malu" katanya datar.
Tinggalkan,
dan beranjaklah pergi dari halauan pandangan mata,
Lebih damai dalam kesunyian,
Memaknai diri dalam sepi perenungan.
Pergilah,
Bawa penat yang lama tersemat,
Pergilah bawa galau usang yang masih mendera,
Cukupkan waktumu sendirian saja.
Biar tenang dalam pemikiran,biar matang dalam pemutusan,
Jeda..!
Istirahat sejenak dari segala keributan rasa,
Dan suara-suara bising yang memecahkan telinga,
Jangan unjuk banyak bicara pada manusia,Renda kalimat yang tak melukai jiwa,
Tarik diri dari keramaian,
Menyepilah,
Seperti para sufi menemui hati bercengkerama dengan jiwanya,
Menghilang tak berjejak,dari riuh kelakar camar bersengketa,
dari gemulai lembayung menari digoyangkan angin,
Mendepis sejenak,
dari hembusan lirih desir angin menyibak bulu roma,
Tenangkan sukma dalam kebebasan,dari segala rasa riuh tentang manusia,
Bicarakan pada Dzat Pemilik Keagungan,
Datang dan katakan,
Rahasiamu akan tetap aman di persinggahan.
Iseng-iseng berawal dari kisah mendengarkan teman yang curhat lagi terkena syndrome PATAH HATI membuat saya ingin berbagai sedikit pandangan dan tips untuk pencegahannya (bagi yang belum kena) dan bagaimana bangkit mengatasinya (bagi yang sudah kena. Sekaligus berbagi sedikit tentang apa dan bagaimana konsep mencintai (menurut saya pribadi).
Lagi-lagi ada yang patah hati karena cinta. Tidak asing memang tapi selalu saja memiliki korban yang sangat banyak. Apa kalian juga begitu? oh.. No, stop it. Dunia tidak berhenti atau kasihan karena kamu patah hati hari ini, coba perhatikan kembali diri kamu sendiri. Kembali pada konsep utama tulisan ini. Mencintai tanpa efek samping patah hati, how is it come?
Cara mencintai lawan jenis kita bukan sesuatu yang nampak mudah bagi kebanyakan orang. Cinta bisa menjadi sumber kebahagiaan tapi juga bisa jadi sumber kehancuran seseorang. So, gimana biar cinta tetap bersahabat dengan hati kita? Belajarlah mencintai tanpa efek patah hati. Caranya ya baca dulu terus postingan saya sampai selesai.
Kebanyakan dari kita mengalami yang namanya patah hati ketika masa PDKT atau pacaran. Cara mncintai sperti ini terdengar terlalu cepat. Sedang ketika kita berbicara tentang PDKT atau pacaran kita tidak boleh bicara tentang KEPEMILIKAN. Semua akan serba menjadi sulit saat kamu sudah jatuh cinta dan berkorban banyak ketika PDKT atau pacaran.
Inilah penyebab utama banyak orang mengira tersakiti oleh CINTA! Apa sebabnya? Mari kita buka bungkus satu per satu.
Kenapa orang merasa tersakiti oleh Cinta? Karena hasrat memiliki. Apa yang mereka rasakan sehingga mereka merasa tersakiti oleh CINTA sebenarnya bukanlah CINTA tapi itulah yang disebut HASRAT.
Cinta dan hasrat memiliki artian yang berbeda. Sekali lagi hasrat itu bukanlah cinta, yang membuat sakit hati adalah hasrat memiliki, hasrat melindungi, dan hasrat menjaga selamanya. Saya tidak berbicara tentang cinta sejati tetapi saya cuma bantu sedikit membuka logika mencintai dan hasrat memiliki, sebab dengan mengetahui keduanya kita bisa meminimalkan efek samping patah hati.
Hasrat lebih banyak bicara tentang kepuasan pribadi, sedang cinta mengutamakan kepentingan bersama, sama-sama sayang, sama-sama senang dan sama-sama berkorban. Cinta itu saling memiliki walau tak harus saling bersatu. Jadi saya kurang setuju dengan ungkapan cinta tak harus memiliki, tapi lebih tepat cinta tak harus menyatukan fisik tapi hati akan tetap saling memiliki. Hehehee.... ko jadi panjang lebar.
Contoh mudah apa itu hasrat adalah anak kecil yang lagi meminta mainan atau ice cream, ia akan kecewa, menangis, merengek bahkan ngambek dan marah ke orang tuanya kalau tidak dituruti hasrat dan keinginannya. Nah, orang dewasa yg nangis, marah, mewek, ngambek atau emosian karena hasratnya tidak dipenuhi bisa disamakan dengan anak kecil.
Sebaiknya kita buat piramida logaritma agar kita lebih "ngeh" dan paham dengan cara mencintai tanpa efek patah hati. Oh, bayangkan hati kita cuma satu kalau patah gimana nyambungnya.
Sakit hati timbul saat kamu telah mengorbankan sesuatu untuk seseorang namun akhirnya kamu khilangan orang tersebut, tidak jad istri/suami kamu. Dan ironisnya nich, kamu mengorbankan sesuatu itu untuk seseorang yang JELAS bukan milik kamu. Sama ja kamu kasih koin ke anak yatim tapi kamu berharap anak yatim itu kasih sesuatu ke kamu. Jauhi konsep pacaran yang salah kaprah dengan embel-embel cinta, anyway cinta butuh pacaran tidak sih? Enggak.
So, agar kamu gak alami namanya syndrome wabah patah hati lagi hanya ada satu cara untuk mencapainya.
Caranya sangat mudah, semuanya ada pada konsep logis logika pemikiran kamu sendri. Yaitu dengan BERHENTI BERHARAP ATAS SESUATU YANG BELUM JADI MILIKMU (ngarep). Berhentilah berkorban yang tidak perlu, untuk mendapatkan kekasih (Pria/wanita) yang kamu inginkan.
Gini ya makasud saya adalah!
Jangan melakukan hal konyol atau pengorbanan diluar logika. Cinta tidak butuh pengorbanan. Bagi cinta yang sudah dimiliki apa pun yang dikerjakannya adalah untuk kebahagiaan bersama kalau belum dimiliki mengapa harus ngoyo maksain berkorban yang tidak jelas. RUGI. Lagi pula yang merasa berkorban itu bukanlah cinta, ketika kamu merasa berkorban maka cintamu telah pudar.
Biasanya anak muda sering minta bukti cinta. Nah disinilah kamu mesti ekstra HATI-HATI mana yang boleh jadi bukti dan engga. Tapi cinta tak perlu bukti, itu mutlak dengan sendirinya cinta yang tulus akan terbukti. Jadi kalau ada yang berkorban lebih dan over masa pacaran jelas ruginya toh belum tntu jadi milikmu.
Apa aja yg biasa dikorbanin? Waktu, teman, kesempatan, duit bahkan kehormatan juga. Rugi ya, kan belum tentu nikahnya. So yang belum terlanjur korban banyak lebihlah hati-hati, masa depan kamu lebih penting.
Jadi intinya biar tidak kena syndrome patah hati adalah dengan merubah mindset kamu agar tidak terlalu berharap dan berhenti berkorban yang tidak perlu juga.
Cinta adalah sesuatu yang kita berikan untuk sesuatu yang telah kita miliki, contohnya orang tua kepada kita itulah cinta, pasangan suami istri itulah cinta. So pada saat PDKT atau pacaran stop to talk about love. BELUM SAATNYA dan bukan merupakan pada tempatnya. Pada saat itu adalah hasrat maka kendalikan hasrat itu agar tak menyakiti hati kamu sendiri. Jadi kalau ada yang patah hati dan menyalahkan cinta maka kamu sudah slah besar.
Lalu bagaimana bagi yang sudah terlanjur jatuh dan terpuruk? Cara bangkit dari sebuah keterpurukan memang tidak gampang. Tapi cobalah untuk berpikir lagi secara normal dan berdasar logika, jangan mainkan perasaan terlalu sering. Pikirkan tentang orang tua kamu, kuliahmu, kerjaanmu, sekolahmu, teman-temanmu dan yang terpenting pikirkan tentang dirimu sendiri. Tidak ada motivator handal mana pun yang dapat menolongmu dari keadaan ini kecuali dirimu sendiri.
Hidup belum berhenti, dan masih berjalan meski kamu sakit hati. Toh tidak jadi masalah bagi orang lain, bukan? Maka, mulailah berhenti meratap dan mengasihani diri sendiri. Meminta-minta simpati dan rasa belas kasihan orang lain itu adalah pilihan paling konyol. Padahal masih sangat banyak yang bisa kamu kerjakan. Menekuni hobi, traveling, berlibur, konsen kembali kepada karir dan mulailah menata masa depan. Tunjukkan bahwa tanpa dia pun kamu akan tetap tersenyum dan jauh lebih baik. Buktikan bahwa dia menyesal menyakitimu suatu hari nanti, tentu dengan tanpa mengemis cinta darinya lagi.
Sebuah pilihan dan keputusan memang harus kamu buat, mau bertahan tapi tersakiti atau memilih lepas tapi kamu bebas dan berbahagia? Semoga kalian dan saya tidak salah dalam mengambil keputusan. Hidup ini hanya soal tentang menjatuhkan pilihan atau tidak memiliki pilihan sama sekali. Goodbye sakit hati, selamat datang cerah hati.
Salah satu perkara yang selalu membuat kita
lemah adalah timbulnya rasa tersinggung dihati kita. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain. Ketika tersinggung, paling tidak kita akan sibuk membela diri sendiri, dan akan memikirkan kejelekan orang yang membuat kita tersinggung itu . Benar begitu, kan?
Perkara yang paling membahayakan dari rasa tersinggung adalah timbulnya penyakit hati seperti rasa merendahkan orang lain dan mengumpat. Malah mungkin menfitnahnya kembali. Kesan yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan.
Bila kita marah, kata-kata jadi tidak terkawal.
Stress meningkat. Karena itu, ketabahan kita untuk “tidak tersinggung” menjadi satu keharusan.
Apa yang menyebabkan seseorang itu tersinggung?
Rasa tersinggung seseorang itu timbul karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, baik, tampan, dan merasa
berjaya. Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan yang sebenarnya, apabila ada yang menilai kita kurang sedikit saja dari expectation kita, maka kita akan merasa tersinggung. hemmm.... Tuh kan memuja diri sendiri itu BAHAYA.
Peluang untuk rasa tersinggung akan terbuka
luas jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu cara menilai diri kita sendiri.
Yang pertama harus kita lakukan agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai secara berlebihan terhadap diri kita sendiri. Ini menurut versi saya. Karena kontrol diri adalah kuncinya.
Misalnya, jangan banyak mengingati bahwa
kita telah berjasa. Saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini saya itu. Saya seorang pemurah. Saya banyak menolong rekan-rekan. Semakin banyak kita mengaku tentang diri kita, akan makin mudah untuk membuat kita mudah tersinggung.
Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk
merendam rasa tersinggung :
Pertama, belajar melupakan.
Jika kita seorang berijazah maka lupakanlah ijazah kita. Jika kita seorang pengarah lupakanlah jawatan itu. Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap semuanya ini berkat dari Allah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan.
Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar
hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali berkat ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik berkat dari Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan dipertanggungjawabkan.
Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati.
Kedua, kita harus melihat bahwa apa-apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat. Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita.
Sebenarnya kita tidak boleh memaksa orang
lain membuat sesuatu sama dengan keinginan kita. Apa yang boleh kita lakukan adalah memaksa diri sendiri memahami orang lain dengan sikap terbaik kita .
Apa pun perkataan orang lain kepada kita, walaupun sangat mengiris hati, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita lalui untuk menguji keimanan kita.
Ketiga, kita harus bersimpati.
Melihat sesuatu tidak dari sudut pandang kita. Renungkan kisah seseorang yang sedang membawa gajah berjalan-jalan, dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang gajah tersebut. Yang berada di depan berkata, “Oh indah sungguh pemandangan sepanjang hari”.
Pasti dia dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang
perjalanan, orang yang dibelakang hanya melihat punggung gajah.
Oleh itu, kita harus belajar bersimpati. Jika tidak ingin mudah tersinggung, maka cari seribu satu alasan untuk boleh menyenangkan hati orang lain . Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk menyenangkan, bukan untuk membenarkan kesalahan.
Keempat, jadikan penghinaan orang lain
kepada kita sebagai ladang peningkatan kualitas diri.
Jadikan penghinaan orang lain kepada kita
sebagai kesempatan untuk menyucikan jiwa, dengan memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan.
Pada suatu hari, Rasulullah SAW bersama sahabat- sahabatnya sedang duduk bersama. Tiba-tiba baginda bersabda: “Akan datang
selepas ini seorang ahli syurga.”
Maka muncul lah fulan bin fulan. Keesokannya juga sama, Rasulullah bersabda perkara yang sama, dan muncul fulan bin fulan yang sama. Keesokannya lagi juga sama. Rasulullah SAW bersabda perkara yang sama, dan muncul fulan bin fulan yang sama.
Akhirnya seorang sahabat Rasulullah pergi berziarah ke rumah lelaki itu, dan tidur di rumahnya untuk menyiasat apakah amalannya.
Selama tiga hari, sahabat Rasulullah itu tidak
menjumpai apa-apa ibadah yang hebat, yang besar,yang menarik. Akhirnya dia menyatakan hajat sebenarnya tidur di rumah lelaki itu. Lelaki itu menjawab:
“Ibadahku adalah sebagaimana yang kau lihat. Tiada yang menakjubkan. Biasa-biasa sahaja .”
Sambung lelaki itu: “Tetapi di dalam hatiku tidak ada sangka buruk, rasa benci, kepada saudara-saudara mukminku.”
Memaafkan. Memaafkan dengan dada yang lapang. InsyaAllah yang lain akan datang kemudian. Kelapangan hati, ketenangan jiwa, kesegaran roh, akan hadir kepada kita insha Allah. Pasti.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah
kamu berlaku lemah- lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerana itu maafkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka…” Surah Ali- Imran ayat 159..
Tips Cara Mengatasi Emosi Meredam Amarah/Marah Yang Dapat Merugikan Kita Dan Orang Lain!
Ketika emosi dan amarah memuncak maka segala sifat buruk yang ada dalam diri kita
akan sulit dikendalikan dan rasa malu pun kadang akan hilang berganti dengan segala sifat buruk demi melampiaskan kemarahannya pada benda, binatang, orang lain, dll di sekitarnya.
Banyak orang bilang kalau menyimpan emosi secara terus- menerus dalam jangka waktu
yang lama dapat pecah sewaktu-waktu dan bisa melakukan hal-hal yang lebih parah dari orang yang rutin emosian. Oleh sebab itu sebaiknya bila ada rasa marah atau emosi sebaiknya segera dihilangkan atau disalurkan pada hal-hal yang tidak melanggar hukum dan tidak merugikan manusia lain.
Beberapa ciri-ciri orang yang tidak mampu mengandalikan emosinya :
1. Berkata keras dan kasar pada orang lain.
2. Marah dengan merusak atau melempar barang-barang di sekitarnya.
3. Ringan tangan pada orang lain di sekitarnya.
4. Melakukan tindak kriminal / tindak kejahatan.
5. Melarikan diri dengan narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, dsb.
6. Menangis dan larut dalam kekesalan yang mendalam.
7. Dendam dan merencanakan rencana jahat pada orang lain. dsb...
A. Beberapa Cara Untuk Meredam Emosi / Amarah Diri Sendiri :
1. Rasakan Yang Orang Lain Rasakan Cobalah bayangkan apabila kita marah kepada orang lain.
Nah, sekarang tukar posisi di mana anda menjadi korban yang dimarahi. Bagaimana kira-kira rasanya dimarahi. Kalau kemarahan sifatnya mendidik dan membangun mungkin ada manfaatnya, namun jika marah membabi buta tentu jelas anda akan cengar-cengir sendiri.
2. Tenangkan Hati Di Tempat Yang Nyaman
Jika sedang marah alihkan perhatian anda pada sesuatu yang anda sukai dan lupakan segala yang terjadi. Tempat yang sunyi dan asri seperti taman, pantai, kebun, ruang santai, dan lain sebagainya mungkin tempat yang cocok bagi anda. Jika emosi agak memuncak mingkin rekreasi untuk penyegaran diri sangat dibutuhkan.
3. Mencari Kesibukan Yang Disukai
Untuk melupakan kejadian atau sesuatu yang membuat emosi kemarahan kita memuncak kita butuh sesuatu yang mengalihkan amarah dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan dapat membuat kita lupa akan masalah yang dihadapi. Contoh seperti mendengarkan musik,
main ps2 winning eleven, bermain gitar atau alat musik lainnya, membaca buku, menulis artikel, nonton film box office, dan lain sebagainya.
Hindari perbuatan bodoh seperti merokok, memakai narkoba, dan lain sebagainya.
4. Curahan Hati / Curhat Pada Orang Lain Yang Bisa Dipercaya
Menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri kita mungkin dapat sedikit banyak
membantu mengurangi beban yang ada di hati. Jangan curhat pada orang yang tidak kita
percayai untuk mencegah curhatan pribadi kita disebar kepada orang lain yang tidak
kita inginkan. Bercurhatlah pada sahabat, isteri/suami, orang tua, saudara, kakek
nenek, paman bibi, dan lain sebagainya. Dan sebaik-baiknya tempat curhat adalah Allah Azza wa Jalla.
5. Mencari Penyebab Dan Mencari Solusi
Ketika pikiran anda mulai tenang, cobalah untuk mencari sumber permasalahan dan
bagaimana untuk menyelesaikannya dengan cara terbaik. Untuk memudahkan gunakan secarik kertas kosong dan sebatang pulpen untuk menulis daftar masalah yang anda hadapi dan apa saja kira- kira jalan keluar atau solusi masalah tersebut. Pilih jalan keluar terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada. Mungkin itu semua akan secara signifikan mengurangi beban pikiran anda.
6. Ingin Menjadi Orang Baik
Orang baik yang sering anda lihat di layar televisi biasanya adalah orang yang kalau marah tetap tenang, langsung ke pokok permsalahan, tidak bermaksud menyakiti orang lain dan selalu mengusahakan jalan terbaik. Pasti anda ingin dipandang orang sebagai orang yang baik. Kalau ingin jadi penjahat, ya terserah anda. Hehee
7. Cuek Dan Melupakan Masalah Yang Ada
Ketika rasa marah menyelimuti diri dan kita sadar sedang diliputi amarah maka bersikaplah masa bodoh dengan kemarahan anda. Ubah rasa marah menjadi sesuatu yang tidak penting. Misalnya dalam hati berkata :
"ya ampun.... sama yang kayak begini aja kok
bisa marah, nggak penting banget sich...!" Hwhehee....
8. Berpikir Rasional Sebelum Bertindak
Sebelum marah kepada orang lain cobalah anda memikirkan dulu apakah dengan masalah tersebut anda layak marah pada suatu tingkat kemarahan. Terkadang ada orang yang karena diliatin sama orang lain jadi marah dan langsung menegur dengan kasar mengajak ribut / berantem. Masalah sepele jangan dibesar- besarkan dan masalah yang besar jangan disepelekan.
9. Diversifikasi Tujuan, Cita-Cita Dan Impian Hidup
Semakin banyak cita-cita dan impian hidup anda maka semakin banyak hal yang perlu anda raih dan kejar mulai saat ini. Tetapkan impian dan angan hidup anda setinggi mungkin namun dapat dicapai apabila dilakukan dengan serius dan kerja keras. Hal tersebut akan membuat hal-hal sepele tidak akan menjadi penting karena anda terlalu sibuk dengan rajutan benang masa depan anda. Mengikuti nafsu marah berarti membuang-buang waktu anda yang berharga.
10. Kendalikan Emosi Dan Jangan Mau Diperbudak Amarah
Orang yang mudah marah dan cukup membuat orang di sekitarnya tidak nyaman sudah barang tentu sangat tidak baik .Kehidupan sosial orang tersebut akan buruk. Ikrarkan dalam diri untuk tidak mudah marah. Santai saja dan cuek terhadap sesuatu yang tidak penting. Tujuan hidup anda adalah yang paling penting. Anggap
kemarahan yang tidak terkendali adalah musuh besar anda dan jika perlu mintalah
bantuan orang lain untuk mengatasinya.
B. Cara Untuk Meredam Emosi / Amarah Orang Lain.
Untuk meredam amarah orang lain sebaiknya kita tidak ikut emosi ketika menghadapi orang yang sedang dilanda amarah agar masalah tidak menjadi semakin rumit. Cukup dengarkan apa yang ingin ia sampaikan dan jangan banyak merespon. Tenang dan jangan banyak hiraukan dan dimasukkan dalam hati apa pun yang orang marah katakan. Cukup ambil intinya dan buang sisanya agar kita tidak ikut emosi atau menambah beban pikiran kita.
Jika marahnya karena sesuatu yang kita perbuat maka kalau bukan kesalahan kita jelaskanlah dengan baik, tapi kalau karena
kesalahan kita minta maaf saja dan selesaikanlah dengan baik penuh ketenangan batin dan kesabaran dalam mengatasi semua kemarahannya. Lawan api dengan air, jangan lawan api dengan api. Semoga berhasil menjinakkan emosi rasa marah anda.
INGAT...!
Menurut rumus dan formulasi dari saya
Marah + Emosian = Buang waktu& Energi.
Dan terlebih penting, jaga sikap kita agar tidak menyinggung orang lain apalagi sampai menimbulkan kemarahan.
Semangat...!
Foto : Cyber4rt.com