Searching

Friday, 15 November 2013

Agya-Ayla, kebijakan amburadul?

Suara mesin menderu,
Gaungnya memenuhi setiap penjuru,
Ada BMW nampang disitu,
Ada Jaguar antri menunggu,
Honda Jazz tak mau tertinggal ikut nimbrung bersekutu,
Belum lagi inova maju,
Dan segudang nama lain yang mengular lugu,

Ratusan sepeda motor pun tak kalah,
diantara deretan bus dan angkutan umum yang mengantri.
Semrawut.
Seperti benang kusut.
Ruwet.
Tak terpikir mau dibikin dawet.

Ditengah kebobrokan Metropolitan yang tak terkendali,
Muncul si kembar Agya-Aylaa,
Mobil murah kata si menteri perindustrian.
Murah? Murah?
Murah untuk siapa?
Rakyat tidak butuh yang murah diatas tujuh puluh juta.
Yang nyatanya justru menambah kemacetan.

Sekian bulan berselang,
Program amburadul pun tidak nampak memberi faedah yang diharapkan.
“Ini untuk angkutan pedesaan,“ kata pak Presiden dalam sidang paripurna kabinetnya.
Pedesaan?
Ah, haruskah ku ucap kata “Sontoloyo?“
Jakarta itu desakah?
Surabaya desakah?
Medan desakah?
Ingin sekali rasanya,
ku baca pelajaran geografi tentang perbedaan desa dan kota sekali lagi.
Memastikan,
Bahwa aku salah belajar di jamannya.

Ini kebohongan publik paling besar?
Ataukah dongeng menutupi kebobrokan,
Mobil murah, mobil murah dan lagi katanya mobil murah untuk rakyat.
Rakyat yang mana?
Jika setiap pagi masih banyak yang berdesakan mengantri bus dan angkutan,
Mengantri kereta lokal yang bisingnya memecahkan genderang telinga.
Rakyat yang mana?
Bisa juga yang termasuk rakyat hanya orang-orang dengan penghasilan 30juta sebulan?
Mungkin rakyat inilah yang dianggarkan.

Minggir kalian,
Tidak perlu maju mengaku sebagai rakyat kecil didepan istana.
Rakyat kecil itu tidak pernah ada tepatnya.

Ini permainan bisnis?
Setelah kenyang dengan upeti haram ATPM Jepang,
Baru sekarang ngoceh soal angkutan pedesaan?
Langkah mundur halus biar tak kehilangan muka?
Atau,
Bisa jadi si Menteri menyalip Presiden di tikungan pedesaan?

Semrawut,
Berakhir Mawut, tak perlu dituntut.
Baunya akan tetap mulek seperti kentut.
Tut...tut...tut...tut...tut..!
Bunyi kereta butut,
Yang selayaknya di negara maju telah diganti dengan kereta listrik yang jitu.

Indonesia menjadi tempat sampah rongsokan besi dan baja,
Bangga dengan demikian?
Sifat konsumtif yang berlebihan.
Hai, tidakkah kalian tengok di luar sana.
Produsen gerobak besi justru tak laku di negaranya,
Warganya memilih jalan kaki dengan alasan kesehatan,
Memilih sepeda agar terhindar dari polusi,
Bukan lantas seperti masyarakat kita kebanyakan,
Begitu bangga pamer mobil barunya di jalan.
Terkena macet,
Ngomelnya tidak karuan.
Sudah sadarkah?
Macet itu karena siapa?
Macet bukan kesalahan penyedia jalan,
Tapi pengguna jalan yang tidak sedikit jua terpikir bagaimana mengurai kemacetan.

Bukan aneh memang,
Warga kita yang arif bijaksana
terkenal sebagai sasaran konsumen tingkat tinggi dari negara-negara maju untuk membuang rongsokannya.
Kemajuan teknologi sering kali ditebus dengan kemunduran akal mencernanya,
Indonesia bukti nyatakah?
Entah!

Tuesday, 24 September 2013

Tan Malaka

Tan Malaka, seorang sosok cerdas dari Indonesia yang kecerdasannya melampaui batas manusia dijamannya. Namun justru terlupakan, beliau disingkirkan. Tan Malaka berpendapat bahwa menurutnya, pendidikan rakyat jelas merupakan cara terbaik membebaskan rakyat dari kebodohan dan keterbelakangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Tan Malaka dan gagasannya tidak hanya menjadi penggerak rakyat Indonesia, tetapi juga membuka mata rakyat Philipina dan semenanjung Malaya atau bahkan dunia. Tan Malaka yang bahkan dihapuskan dari deretan nama pahlawan nasional di masa orde baru namun namanya tetap menggema di Eropa. Pemikiran-pemikirannya adalah pendobrak perubahan jaman. Tetapi, sayangnya akses mengenai beliau tertutup rapat. Kalau pun terbuka tentu banyak sekali hal yang tak sama disampaikan. Setiap kali membaca kisah-kisah beliau dan pemikirannya mengenai Madilog terdecak rasa kagum luar biasa. Memang sangat berat untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh beliau dalam bukunya “Madilog“ yang konon dilarang beredar pada masa pemerintahan OrdeBaru.

Sebuah buku karya Harry Poeze (sejarahwan Belanda) yang judulnya berarti Dihujat dan Dilupakan; Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949 (terbitan Indonesia berjudul: Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia) sungguh luar biasa dari segi kuantitas dan kualitas. Terdiri atas tiga jilid setebal 2.194 halaman, buku ini bukan saja menggunakan dokumen Indonesia dan Belanda, tetapi juga arsip Rusia. Ini merupakan biografi terbesar dalam sejarah modern Indonesia.

Dalam bukunya Poeze menuliskan bahwa makam Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis. Penembakan itu dilakukan oleh Suradi Tekebek atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Pada masa selanjutnya, Soekotjo pernah menjadi Wali Kota Surabaya dan terakhir berpangkat brigjen, meninggal tahun 1980-an. Selama 36 tahun lebih Poeze berburu jejak menyelesaikan pencariannya tentang Tan Malaka.

Jika Saja Aku Bukan Manusia

"Jika saja aku bukan manusia, akankah aku peduli apa yang manusia kerjakan. Dan apakah manusia peduli untuk apa aku diciptakan? Jika saja aku seekor kelinci atau seekor hama barang kali. Atau bahkan jika aku hanya secuil roti, akankah tetap punya esensi?"

Kalimat itu saya temukan dalam buku biruku,disana tertanggal WhampoaGarden, Winter 17 December 2009. Membolak baliknya beberapa kali dan membacanya lagi dan lagi. Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya ingin saya katakan? Adakah sama sepertiku yang mengalami kebingungan kala itu?

Saya tuliskan kembali catatan itu disini. Seperti ini.

Hanya karena kebaikanNYA maka terciptalah aku menjadi seorang manusia, yang secara harfiah lengkap dipinjami fisik dan sifat manusia. Dan mungkin saja aku bisa berubah tidak seperti manusia dalam perjalanannya bila semua kepemilikan semu ini diambilNya seketika. Tidakkah aku sekali saja berpikir jikalau aku terlahir bukan menjadi manusia, menjadi kelinci atau lumba-lumba misalnya bahkan bisa jadi hanya menjadi sebatang rumput. Lalu manakah yang harus aku elukan dan aku bangga-banggakan? Jika ternyata aku hanya manusia yang terjadi karena pinjaman. Jika kau juga bukan manusia masihkah engkau punya sisi manusiawi? Sedang manusia kini telah lama kehilangan esensi kemanusiaannya sendiri. Tapi mungkin bukan kamu, jadi tak perlu kau pikir apa kataku.

Qiblat dan Kaidah Tangan Kanan

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Tulisan ini hanyalah hasil sebuah revisi dan rangkuman dari apa yang saya baca tanpa sedikit pun mengurangi isi kandungannya. Semoga mampu memberikan gambaran dan manfaat kepada siapa pun pembacanya.
Bissmillahir Rohmanir Rohim..!
"Kenapa sholat menghadap menghadap arah qiblat (Ka'bah)?"
Tentu anda pernah mendengar pertanyaan ini atau justru anda sendiri yang bertanya. Namun, anda masih belum menemukan jawaban atau engga mencari jawaban. Silahkan dibaca sampai selesai untuk menemukan jawaban dari pertanyaan di atas.
" Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah
rumah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi manusia." (QS. Ali Imran: 96)
Kenapa harus sholat menghadap qiblat, juga
kenapa harus ada Ibadah Thawaf, Ini juga sering jadi perenungan manusia, seperti
ini :
1. Ketika mempelajari Kaidah Tangan Kanan (Hukum  Agama ), bahwa putaran energi kalau bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, maka arah energi akan naik ke atas akan naik ke atas. Arah putaran ditunjukkan arah ke 4   jari, dan arah ke atas ditunjukkan oleh Arah Jempol. Ini benar-benar suatu peristiwa yang unik dan aneh .
2. Pola ibadah thawaf dimana bergerak dengan jalan berputar harus berlawanan
jarum jam, ini menimbulkan. pertanyaan, kenapa tidak boleh terbalik arah, searah
jarum jam misalnya.
3. Kenapa Sholat harus menghadap Kiblat,.termasuk dianjurkan berdoa dan pemakaman menghadap qiblat.
4. Kenapa Sholat Di Masjidil Haram menurut Hadist nilainya 100.000 kali dari di tempat sendiri.
5. Singgasana Tuhan ada di Langit Tertinggi
Perenungan Sintesa ( Ilmu Umum ), menurut konsep ilmiah mengenai hubungan sholat dan keberadaan Ka'bah sebagai qiblat umat muslim.
1. Energi Solat dan Doa dari individu atau jamaah seluruh dunia terkumpul memiliki
kekuatan supernatural danbterakumulasi di Kabah setiap saat, karena Bumi berputar
sehingga solat dari seluruh
Dunia tidak terhenti dalam 24jam, misal orang Bandung solat Dzuhur, beberapa menit
kemudian orang Jakarta Dzuhur, beberapa menit kemudian Serang Dzuhur, Lampung dan seterusnya.
Belum selesai Dzuhur di India Pakistan, di Makasar sudah.mulai Ashar dan seterusnya.
Pada saat Dzuhur di Jakarta di.London Sholat Subuh dan seterusnya 24 jam, tiap detik, menit ajam  seterusnya.
Jadi, sholatnya umat muslim akan terus continue/berlanjutan dari muslim satu ke muslim lainnya yang berbeda tempat. Jadi, setiap waktu di dunia ini selalu ada yang melakukan ibadah sholat.
2. Energi yang terakumulasi, berlapis dan bertumpuk akan diputar dengan generator
orang-orang yang bertawaf yang berputar secara berlawanan arah jarum jam yang dilakukan jamaah Makah sekitarnya dan Jamaah Umroh / Haji。
3. Maka menurut implikasi hukum Kaidah Tangan Kanan  bahwa Energi yang terkumpul
akan diputar dengan Tawaf  dan hasilnya kumpulan energi tadi arahnya akan ke atas
MENUJU LANGIT. 


Jadi Sedikit terjawab bahwa energi itu tidak berhenti di Kabah namun semuanya naik ke Langit. Sebagai satu cerobong yang di mulai dari Kabah. Menuju Langit mana atau koordinat mana itu masih belum nyampe pikiran saya. Yang jelas pasti Tuhan telah
membuat saluran agar sholat dan doa dalam bentuk energi tadi agar sampai Ke Hadirat
Nya. Jadi selama 24 Jam sehari terpancar cerobong Energi yang terfokus naik ke atas
Langit. Selamanya sampai tidak ada manusia yang solat dan tawaf, maka ketika tidak ada lagi manusia yang sholat dan tawaf kiamatlah dunia dan isinya.
Kesimpulan
1. Solat dan Doa, diyakini akan sampai ke langit menuju Singgasana Tuhan selama
memenuhi kira-kira persyaratan uraian di atas dengan sintesa (gabungan/ Ekstrasi) renungan hukum agama dan hukum alam,
karena dua-duanya ciptaan Tuhan juga. Jadi hendaknya ilmuwan dan agamawan bersinergi/ saling mendukung untuk mencapai kemaslahatan yang lebih luas dan
pemahaman agama yang dapat diterima lahir batin.
2. Memantapkan kita dalam beribadah solat khususnya dan menggiatkan diri untuk selalu
on-line 24 jam dengan Tuhan, sehingga jiwa akan selalu terjaga dan membuahkan
segala jenis kebaikan yang dilakukan dengan senang hati (ikhlas).
3. Terjawablah jika sholat itu tidak menyembah batu (Ka'bah) seperti yang
dituduhkan kaum orientalis, tapi menggunakan perangkat alam untuk menyatukan energi solat dan doa untuk
mencapai Tuhan dengan upaya natural manusia.
4. Tuhan Maha Pandai, Maha Besar dan Maha Segalanya.
Ini sekedar renungan dan analisa , semoga saja mampu memotivasi kita dan para
Pakar untuk memicu pemikiran, penelitian lebih dalam untuk lebih mempertebal keimanan dan menjadi saksi bahwa Tuhan
menciptakan semesta dengan penuh kesempurnaan tidak dengan main-main (asal jadi) sehingga makin yakin dan cinta pada Allah Azza wa Jalla. Mungkin renungan ini
berlebihan dan berfantasi, tapi sedikitnya ini pendekatan yang mampu menjawab pertanyaan sebagaimana di atas dan tidak
bertentangan dengan Kitab Suci dan Hadist bahkan mendukungnya.
Lalu, kenapa harus Ka'bah?! Kenapa berpusat di Mekkah tidak ti tempat lainnya? Let's check it up..!
Ramalan Untuk Memastikan Bahwa Ka’bah Dan Kiamat hanya Allah Azza wa Jalla Yang Tahu :
1. Ka’bah Akan Hancur Dengan Sendirinya (Terbukti dengan ditenggelamkannya
satu pasukan yang akan menyerang ka’bah suatu hari nanti)
2. Jika Pusat Bumi Bergeser Akan Banyak Kekacauan (seperti Musim Yang tidak Mengenal waktu).
3. Kiamat Akan Cepat Terjadi Jika Sholat Sudah Ditinggalkan.
4. Anda Pasti Juga pernah mendengar jika Siapa Yang Meninggalkan sholat berar telah merobohkan Agama. Sholat adalah tiangnya agama.
Wawllohu'alam bisowab. Wassalamu'alaikum..!!

Tuesday, 17 September 2013

“Saya“ (Sebuah Proses Yang Panjang) part 1

Saya menyimpan ini untuk waktu yang lama, berpikir ulang untuk menuliskannya. Apakah layak dibaca? Apakah pantas dijadikan pelajaran? Tapi inilah titik perubahan hidup saya. Hijab.

Hijab.
Rasanya dari dulu sebuah kata yang asing bagi saya, sebab di dalam keluarga memang tidak ada mengenakannya. Itu yang pertama. Kedua kalaupun dulu pergi mengaji ya hanya sebatas dikenakan kerudung asal-asalan untuk menutup kepala. Di keluarga besar saya hanya ada 2 orang sosok perempuan, nenek dan ibu. Selebihnya mereka adalah laki-laki. Ibu saya pun perempuan satu-satunya dari 5 bersaudara. Ini adalah awal yang mempengaruhi saya justru enggan bersosialisasi dengan tetangga. Bermain dengan sesama anak perempuan yang sebaya, sangat jarang. Kalaupun bermain dengan anak-anak perempuan justru yang usianya 3 tahun lebih diatas saya. Inilah bibit-bibit ketomboian yang saya rasakan. Sebab ibu memang kurang memperhatikan bagaimana perkembangan pola pikir saya. Sebagai orang tua muda, mereka lebih berpikir untuk memenuhi kebutuhan fisik. Walau pun dari keluarga biasa-biasa namun sejak kecil saya tidak merasa kekurangan soal kebutuhan fisik. Bahkan saya merasa memiliki fasilitas yang lebih baik dari anak-anak disekitar saya.
Lambat laun kehidupan berubah. Saya merasa sesuatu yang aneh dengan kepribadian saya sendiri. Terkadang suka ngomong yang saya sendiri seperti baru pertama kali mengucapkannya, setelahnya saya bahkan tidak ingat dan tidak tahu apa yang baru saja saya katakan. Sekitar usia 5,5 saya mengalami typus yang parah. Rambut rontok, pucat, kurus sekali dan bahkan mulut tidak bisa dibuka untuk makan saja harus bubur yang sangat halus dan minum dengan memakai sedotan sehingga orang tua pun memutuskan menunda untuk memasukan saya ke sekolah.
Sejak di kelas 1 SD saya sudah merasakan sesuatu yang tidak biasa dialami anak seusianya. Katakanlah kecerdasan dan pola pikir itu melebihi anak seusianya, bahkan termasuk tingkah lakunya. Rasa ingin tahu dan penasarannya. Saking penasarannya dengan cerita tetangga mengenai hantu saya pernah diam-diam keluar rumah tengah malam, pergi ke makam tua di sebelah desa yang ditandai sebuah pohon beringin besar disana. Sejak dari SD saya tergolong tidak menyukai pergaulan, menyendiri dan bercakap dengan beberapa saja. Maka, tidak jarang saya dijauhi. Bahkan hampir tidak memiliki teman.
Menginjak kelas 3 SD mulai sedikit lebih terbuka. Apakah saya autis? Barang benar kali demikian. Namun, saya tidak harus pusing dengan istilah orang intelek ini. Apakah ada pengaruhnya dari orang tua dan lingkungan soal saya lebih suka menarik diri dan berpikir sendiri? Tidak. Sebab itu berasal dari diri saya sendiri, bahwa saya tidak menemukan kecocokan dengan mereka. Rasanya seperti tidak ada yang nyambung diajak bicara, mereka bilang saya aneh. Apa yang saya bicarakan katanya tidak paham. Ketika anak-anak seusia saya lebih suka berbicara tentang kartun atau lagu-lagu Eno Lerian maka saya lebih suka mengajaknya berbicara bahwa tumbuhan itu bernyawa. Atau sesekali saya ajak mengamati pojok-pojok sekolah yang dianggap seram. Sebab mereka tidak sejalan dengan apa yang saya pikirkan. Sejak itu saya lebih suka menuliskan apa yang saya pikirkan, yang saya ragukan dan saya rasakan. Entah itu nyata atau sekedar imajinasi saya acap kali menemui hal janggal yang menurut teman saya sebenarnya tidak ada apa-apa.
Misalnya ketika hendak mengatakan, “Jangan kesana nanti kamu jatuh.“ maka hal ini justru dianggap ngaco. Padahal itu juga keluar tanpa saya ingin mengatakan. Perlakuan berbeda dari teman sebaya yang menganggap saya pribadi yang aneh justru membuat saya merasa lebih sombong berpikiran bahwa mereka tidak mampu mencapai apa yang saya pikirkan. Saya merasa bahwa saya berbeda, tetapi saya tidak berani bercerita kepada siapa saja. Saya mencari tahu dan memikirkannya sendiri.
Saya masih ingat jelas ketika saya harus jatuh menerima rangking 2 pada caturwulan kedua kelas 3 SD saya merasa bahwa teman saya yang peringkat 1 tidak layak. Sebuah sifat iri muncul dengan sangat kuat, bagaimana bisa saya yang dari kelas 1 tidak pernah terjatuh dari rangking 1 dikalahkan oleh anak sepertinya. Pikiran saya menganggap bahwa saya lebih layak. I am the winner not him, bagaimana dia yang menyontek dan jarang masuk justru mendapat yang lebih baik dari saya? Dan akhirnya seperti dendam kesumat, saya harus bisa menjadi yang terbaik lagi di kelas dan di sekolah. Demi melancarkan dendam itu, saya menjadi sangat sinis. Siapapun yang bertanya atau ingin menyontek PR tidak akan mendapat apa-apa. Kalau pun saya memberi jawaban maka yang keluar ialah jawaban dipalsukan, sehingga ketika menjelang ujian ada yang menyontek pekerjaan saya maka jawabnnya akan berbeda jauh dengan milik saya. “Enak saja aku yang belajar mati-matian kamu tinggal nyontek dan dapat rangking 1“. Begitulah yang saya pikirkan dulu. Menjadi juara kelas dianggap sebagai suatu keberhasilan akademis, hingga akhirnya rangking itu tetap setia dengan saya hingga kelas 3 SMP tanpa jatuh sekalipun pada peringkat 2. Pernah sekali waktu pas kelas 1 SMP catur wulan pertama, ada 2 orang rangking 1 dikelas. Saya dan teman saya, Mer. Saya menganggapnya saingan dan harus dikalahkan. Bagaimana pun saya tidak boleh menjadi no 2 dikelas.
Saya menulis ini bukan untuk berbangga merasa pintar dari orok, bukan. Namun, terlebih mengingatkan saya bahwa saya pernah menjadi pribadi yang sangat sombong terhadap ilmu pengetahuan yang dangkal. Merasa paling layak dan pintar, apalagi di dukung beasiswa prestasi dari kabupaten sejak kelas 4 SD sampai kelas 3 SMP. Hal inilah yang justru kala itu membuat saya buta, dan memandang bahwa yang dibawah saya itu bodoh. Sebab dalam pikiran saya tercipta sebuah pemikiran secara tidak sadar, bagaimana pun saya harus memimpin mereka. Saya tidak boleh berada dibelakang.
Kebiasaan suka berbicara (red. Presentasi), menulis dan membaca itu sudah sejak SD adanya. Mengisi mading sekolah, mengikuti lomba antar sekolah ataupun sebagai perwakilan murid teladan. Dan, yang jelas saya ingat ialah saya paling suka mengkritik apa yang disampaikan guru di kelas. Apalagi jika itu guru ganti yang hanya mewakili. Pernah sekali ingin berbuat iseng dengan 3 orang kawan saya, konon katanya kalau dibawakan tanah kuburan dan di taruh di kelas semua bakal kesurupan. Saya tidak percaya, dan hanya ingin membuktikan. Dan ternyata memang tidak terjadi apa-apa, maka jika ada orang tua yang menakuti anaknya bahwa pemakaman itu menyeramkan sesungguhnya sama saja mengajari anaknya berbohong. Manusia lebih menyeramkan dari tanah kuburan.
Ketika anak-anak SD lebih suka membaca cerita kancil mencuri timun maka bacaan saya justru serat sastra Jawa milik mbah kakung. Ketika anak-anak lebih suka mendengarkan dongeng timun emas saya lebih tertarik mendengar bagaimana cerita mbah kakung tentang kisah Belanda dan tentara Jepang. Ketika teman-teman saya ingin pergi berlibur ke Kebun Binatang Surabaya saya justru ingin ke Papua seperti kakek (red. Kakak dari mbah Putri) yang dulu ikut dalam upaya pembebasan Irian Barat. Bahkan sampai detik ini saya terus menyimpan keinginan untuk bisa tinggal di Papua. Saya justru lebih tertarik bercerita dan mendengarkan cerita dari mbah kakung dan teman-temannya. Karena beliau juga saya lancar membaca dan menulis huruf jawa sejak kelas 5 SD tetapi justru tidak setelah dewasa. Tepatnya setelah saya menjadi lebih tua. Sejak di SD saya tidak menyukai pelajaran PAI, pertama karena gurunya yang menurut saya suka pilih kasih dan menghukum jika tidak hafal atau menyuruh anak didiknya berdiri di kelas lalu di pukul dengan “juding“ (Tongkat untuk membaca di papan tulis yang dibuat dari bambu).
Saya sering beralasan kalau jam PAI dan menurut saya beliau lebih cocok menjadi tukang dongeng untuk kami dengan menceritakan kisah para nabi.
Sediam-diamnya saya menarik pergaulan menjelang masa puber tetap saja akhirnya bergaul juga. Saya yang biasanya diam, berbalik arah. Seakan mendapat angin segar untuk bergaul sesuka hatinya. Masa puber haruslah menjadi catatan bagi setiap orang tua dan calon orang tua bahwasanya pada masa itu mereka justru butuh perhatian extra. Tidak malah dibiarkan karena dianggap menuju dewasa, justru masa itulah pengawasan diperlukan. Apakah si anak bergaul dengan baik atau mengikuti arus kenakalan remaja.
Sejak kecil saya hampir tidak pernah dilarang oleh orang tua, bagaimana saya mengatur kegiatan di sekolah atau pun di luar sekolah. Masa SMP adalah senang-senangnya membentuk penampilan. Mengikuti gaya sinetron atau justru memiliki style sendiri, dan bagi saya tampil setengah tomboi itu jauh lebih nyaman. Tak urung ketika saya tak lagi memakai baju perempuan ibu mulai cerewet dan memilih-milih mode baju remaja terbaru. Sebagai catatan ibu selalu update perihal mode pakaian. Justru pada masa itu saya merasakan sebagai percobaan ibu dalam memilih mode. Suka tak suka ketika ibu harus memakai baju A maka ialah A yang dipakai, saya paham maksudnya agar saya tidak jatuh lebih dalam berdandan seperti laki-laki. Dandanan boleh sedikit memang mirip perempuan, tapi naluri mengatakan bahwa saya tidak bisa terus demikian. Jadwal les sudah diatur setiap hari, bahkan hampir tidak ada waktu untuk bermain. Tapi apa sich yang tidak bisa dimainkan? Hati manusia saja sangat bisa dimainkan, apalagi hanya jadwal les.
Kala itu saya menyampaikan niat untuk mengikuti beladiri seperti yang ditekuni kedua om saya, untuk ukuran anak SMP tentu orang tua saya tidak langsung mengiyakan apalagi saya seorang perempuan. Segala jurus dilakukan untuk mendapat ijin, alhasil setiap minggu malam saya dibolehkan mengikuti latihan beladiri selepas maghrib hingga jam 10.00 malam. Kadang-kadang berlatih ke luar kota atau pelatih dari luar kota yang datang. Kalau sudah begitu bisa sampai jam 12 atau  1 malam baru pulang, banyak hal yang saya dapat disana. Selain belajar jurus dan tendangan, tapi juga belajar bagaimana kita harus membentuk kepribadian.
Lantas apakah pribadi saya terbentuk disana? TIDAK.
Justru saya semakin lama semakin menyadari bahwa hal aneh dalam diri saya semakin besar. Jika tidak mau dikatakan plin plan maka katakanlah saya berkepribadian ganda. Disisi lain saya bisa sangat baik dihadapan orang, namun disisi lain saya memiliki pribadi yang sangat tengil. Diam-diam tanpa sepengetahuan om saya sebagai pelatih beladiri, saya sering kali merasa jadi ga mempan kalau dipukul orang. Suka nyobain di luar arena pelatihan atau pertandingan.  Saya merasa bahwa meski perempuan bisa kok ngepalin tangan dan melawan.
Saya punya kebiasaan buruk masa itu yaitu senang melihat orang tawuran. Pada masa kelas 3 SMP itulah jiwa itu berkembang. Suka tawuran. Baik dengan sesama pelajar SMP satu sekolah maupun beda sekolah maupun anak-anak tidak sekolah, melompati pagar untuk sekedar kabur di jam kosong juga sering dikerjakan. Lalu bagaimana bisa saya masih menerima beasiswa prestasi di kelas 3 padahal saya sudah sering bikin onar? Maka inilah yang saya sebut kepribadian ganda. Tidak ada 1 orang guru dan staff pun yang tahu saya bagian anak-anak yang sering membikin ulah merusak pagar. Jaman itu saya memiliki teman satu geng, meski tidak semuanya suka tawuran seperti saya. Tapi mereka ibarat teman nongkrong di kelas, di kantin, di perpus. Selebihnya tidak ada ikatan lainnya, teman-teman saya justru lebih banyak anak-anak di luar sekolah. Dari merekalah saya belajar dan menjadi lebih tengil dari teman saya sendiri.
Ada satu teman sekelas saya, namanya Hari. Anaknya memang rada seenaknya dan suka godain cewek-cewek. Pernah sekali saya dan Dew memukulnya sebagai upah atas omongannya yang tidak senonoh. Kepalanya dipepetkan ke nako jendela, kemudian kami tonjok tepat di hidungnya dengan bergantian. Sedang kawan saya yang lain menjaga pintu kalau ada yang datang. Setidaknya cukup manjur untuk membuatnya jera tidak mengganggu lagi.
Melepas masa puber dan beranjak menjadi bagian putih abu-abu kesannya sangat menyenangkan. Jika biasanya anak-anak SMA menganggap kami sebagai anak kecil sekarang merasa sejajar secara tingkatan sekolah formal. Kebandelan makin merajalela, namun di sekolah saya tetaplah murid sekolah yang sekali-sekali saja melanggar peraturan. Beranjak gede mulai terpengaruhi dengan teman-teman di luar sekolah. Nongkrong selepas sekolah rasanya menjadi tujuan wajib. Melepas baju seragam dan menggantinya dengan baju biasa yang sudah dipersiapkan. Makin hari makin bandel, mula-mula hanya sekedar mencoba sebatang rokok lama-lama menjadi dua batang. Pertama batuk-batuk tapi tidak lama menjadi kebiasaan. Hanya saja (katakanlah berkepribadian ganda) semuanya di lakukan di luar jam sekolah, walau demikian tetap saja mempengaruhi pelajaran akademis. Hari demi hari nilai raport anjlok. Jika biasanya saya tidak mau dikalahkan kini saya harus merasa puas hanya berada pada 5 besar. Kenapa dari tadi saya menyebutkan prestasi akademis? Sebab itulah dulu yang menjadi patokan, bentuk laporan tanggungjawab saya sebagai anak sekolah kepada orang tua. Orang tua memberi kebebasan berkegiatan extra ataupun di luar lingkungan sekolah selama itu positif, sepositif apapun laporan yang kita buat tetap saja lebih pintar yang membuat laporan. Maka inilah yang ingin saya tekankan, bahwa Kebebasan dari orang tua bukan berarti kita boleh berbuat apa saja sesukanya tetapi kebebasan itu harus tetap bertanggungjawab tanpa menghianati kepercayaan orang tua. Dan bagi orang tua memberikan kebebasan bukanlah melepas anak-anak seenaknya tanpa di kontrol ataupun di lihat apa yang anaknya kerjakan di luar pengawasannya.
Lalu apakah ini salah orang tua sehingga saya menjadi sangat bandel dan tidak terkontrol kala itu? Bukan.
Orang tua sudah berusaha memberi yabg terbaik untuk saya. Tetapi saya secara sadar menyalahgunakannya, mengibuli mereka apalagi saya tinggal berjauhan. Ini menjadi kesempatan. Jadi untuk orang tua, berikanlah pengawasan extra bagi yang anaknya kost atau tinggal bersama saudara/kakek nenek.
Jika kelas satu SMA saya hanya bermain rokok namun tidak di kelas 2. Saya mulai menghisap ganja dan sejenisnya. Menggunakan putaw sesekali. Dan sesuatu yang memang mengejutkan tidak ada lingkungan sekolah yang menemukan saya sedang memakai. Yang sebagian mereka rasa mungkin saya menjadi lebih pendiam dan menarik diri dari keributan bersama teman-teman sebelumnya. Ya, sejak saat itu saya resmi menjadi pemakai hingga akhir kelas 2.
Belum sempat ketergantungan dengan parah akhirnya entah siapa yang mengingatkan saya sadar juga. Bahwa saya tidak boleh begini, harus bisa mengangkat diri lagi. Akhirnya saya tinggalkan teman-teman saya yang pemakai. Saya konsentrasi dengan sekolah. Harus bisa naik kelas sesuai program yang saya inginkan, Bahasa dan Sastra.
Akhirnya saya masuk ke jurusan Bahasa dan Sastra sesuai keinginan saya yang memang menyukai sastra. Sifat bandel masih kambuh kadang-kadang saja. Sebagai catatan yang lupa saya tuliskan saya adalah anggota aktif extra teater di sekolah sekaligus sebagai ketuanya. Hal ini menjadi kesempatan bagi saya untuk sering keluar rumah selepas jam sekolah. Disana saya mulai mendapatkan pengetahuan baru, belajar menjadi lebih dewasa di lingkungannya. Namun tetap liar diluar organisasi. Sekali lagi saya katakan bahwa saya pemilik kepribadian ganda. Dan saya menyadarinya.
Adakah bibit-bibit psikopat juga disana? Barangkali ya hehehehe...
Ketika berada dalam kesendirian saya sering sekali terjebak di dalam dua “aku“. Apakah yang saya kerjakan benar atau salah? Pertentangan batin selalu ada. Pada masa itu saya sering sekali merasa ingin menyakiti orang 10x lipat lebih sadis ketika mereka menyakiti saya. Apapun caranya, mereka harus merasakan yang lebih parah dari apa yang mereka perbuat. Jika tak langsung saya yang mengerjakan maka saya membuatnya sakit dengan orang lain. Disisi lain saya tetaplah pelajar SMA ternama di kotanya yang tugasnya ialah belajar menyiapkan ujian akhir nasional. Menjelang ujian nasional persiapan keras saya lakukan, mengingat 2 tahun sudah saya sekolah asal-asalan. Lebih menikmati urusan di luar jam sekolah. Maka saat itu adalah waktu yang pas untuk cuek dengan segala persoalan di luar menyiapkan ujian.
Teman-teman yang biasanya datang ke rumah dan jalan beramai-ramai mulai menjauh dan suka mencibir. “Dul, gaya belajar terus sekarang. Keluar yuk.“ Maka jawabannya hanya saya masuk kamar atau membuka buku pelajaran. Kalau biasanya saya lebih suka duduk gitaran di teras bersama mereka, main catur atau sekedar bersenda gurau maka saya sendiri yang memutuskan untuk tidak menemui mereka. Walau terkadang ketika saya ingin sekali memakai putaw dan tidak ada rasanya sangat menyiksa. Ujian selesai dengan hasil 3 besar. Tapi tidak ada kepuasan disana, kenapa hanya beda 0,4 saja saya harus tertinggal? Dan terlebih cuma dikalahkan dengan anak yabg suka ngacir, membolos dan menyontek saja dikelas. Bahkan jika sama-sama ditanya secara lisan, saya yakin saya jauh lebih pintar. Sombong. Kesombongan itu tidak akan bertahan lama. Sesungguhan kepintaran yang kita miliki bukanlah sekali-kali untuk dirasai bahwa kita pintar. Pintar itu mampu membawa diri. Andai saja kala itu saya juga berpikir demikian ya.
Semua siswa berencana ingin melanjutkan kuliah. Saya mengajukan beberapa lembar formulir beasiswa untuk jurusan pariwisata dan Sastra di Jogja. Tes demi tes dilakukan, setelah salah satu kampus akademi Pariwisata yang saya inginkan mengiyakan beasiswa ternyata orang tua tidak menyetujuinya. Perdebatan pun tak bisa dihindari. Berkas-berkas beasiswa saya bakar sambil ditangisi. Dilain pihak secara bersamaan beberapa kampus lokal di Kediri, Malang dan Surabaya juga melayangkan surat keterangan memperoleh beasiswa berdasar hasil ujian nasional dan rekap catatan prestasi yang ada. Syarat utama ialah bahasa Inggris untuk jurusan sastra Inggris yang menjadi pilihan kedua saya. Akhirnya saya memutuskan mengambil salah satunya dari Kampus ternama di Surabaya. Tidak berapa lama disana. Kambuh lagi karena pergaulan. Dan itu justru semakin parah. Hobi menggunung semakin menggila dan tidak tertahan, kuliah berantakan, masalah narkotika tidak lagi tertasi. Dan akhrinya DO. Kemana saya yang dulu rajin?

Pada masa itulah pencarian dimulai. Saya menjadi sangat ragu dengan apa yang selama ini saya pelajari. Islam. Benarkah Islam adalah agama yang damai, jika ternyata biang kerusuhan justru ialah muslim? Bom Bali yang sangat segar dalam ingatan saya kala itu. What's the real freedom?
Perjalanan demi perjalanan dimulai, tanpa sesuatu yang jelas mencarinya kemana. Luntang lantung dengan pergaulan yang semakin tidak jelas. Peran orang tua tidak lagi diindahkan sama sekali. Bahkan bisa jadi dianggap tidak ada.
Saya ingin sekali menuliskan ini, namun dengan sangat hati-hati. Saya menyadari bahwa membicarakan keyakinan adalah suatu hal yang sangat sensitif. Dari salah seorang kawan asal Bali, sebut saja Blih Made  saya mempelajari bagaimana menjadi umat hindu yang baik. Segalanya diberitahukan bahwa hukum karmapale itu nyata, Sang Hyang Widi Wase itu ada. Tak lama saya berlari lagi.
Jatuhlah pada seorang pemuka nasrani, katolik. Segala kebesaran Yesus diceritakannya. Di sadarkannyalah bahwa Tuhan selalu memberkati umatNya, saya diajak membaca injil setiap hari agar hati semakin tenang. Agar kebodohan saya tidak terulang. Tapi hati semakin ragu dengan kata Tuhan.
Sampai ujungnya perhelatan itu sampailah pada ajaran welas asih. Yang menyatakan kosong ialah isi dan isi ialah kosong. Perenungan demi perenungan saya jalani menurut kata guru saya. Menyerahakan untuh kepada sang penguasa, bahwa hidup manusia akan mengalami reinkarnasi nantinya.
Gejolak itu tidak hanya sampai disana. Bahkan saya merasa hampir-hampir gila. Atau memang sudah gila? Perhelatan batin demi batin terus terjadi hingga pada masanya saya menyesal mengenal Tuhan. Saya percaya bahwa kebaikan manusia sudah cukup untuk segalanya. Tuhan hanya sesuatu yang khayal dari buah pikiran manusia. Buku-buku filsafat mulai memenuhi otak saya, seperti diinstal ulang rasanya. Saya tidak percaya dengan adanya Tuhan, dan agama ialah sumber musibah dan kekacauan. Saya tidak peduli apakah orang menganggap bahwa Atheis itu dosa, dosa menurut kaca mata siapa? Bukankah kebenaran itu relatif menurut sudut pandang mata siapa, benar menurut saya belum tentu benar menurut orang lain. Saya menjadi begitu sensitif dan kritis jika ada yang mengusik soal keyakinan. Hingga sampai akhirnya saya memutuskan meninggalkan semua yang ada. Tentang pencarian dan kehidupan. Berbagai persoalan dengan teman dan keluarga cukup banyak, saya hanya butuh ketenangan kala itu. Maka ketika kawan saya menawari pergi ke Luar negeri saya setujui sekalipun sebagai migran worker. Semua saya tinggalkan. Dengan segala upaya, tapi ternyata saya tak bisa karena tes kesehatan tidak mengiyakan.
Sampailah perjalanan itu hanya jadi pengangguran dan tak tahu mesti bagaimana. Lontang lantung tidak jelas, Ya barangkali akal sudah tidak berfungsi. Akhirnya saya masuk rehabilitasi, melakukan pengobatan dari obat-obatan. Narkotika memang seperti gelas kaca, ia tembus pandang menawarkan segarnya anggur atau bir didalamnya. Menyejukan sejenak kemudian menusuknya perlahan, jika pecah maka pecahannya akan melukai siapa saja. Maka bagi setiap orang tua hendaklah selalu memperhatikan dan mengawasi perubahan-perubahan anaknya. Jangan lantas asal percaya bahwa anak saya baik-baik saja.
*Bagaimana Proses saya hingga memutuskan untuk berhijab? Nanti saya lanjutkan. Tetap setia kepada proses. Dijaga api lilinnya jangan sampai terbakar.

Saturday, 14 September 2013

Benarkah kebenaran di balik Relativisme Epistemologis bisa dipatahkan?

Pada pertengahan abad ke 19, seorang tokoh fisika Werner Heisenberg melontarkan prinsip ketidakpastian (principle of uncertainty). Bersama Erwin Schrodinger merumuskan mekanika yang lebih sempurna dari Mekanika Newton yang disebut Mekanika Kwantum (Mekanika Gelombang). Mekanika Newton sendiri memerlukan penyempurnaan, khususnya apabila digunakan membahas partikel-partikel pada skala atom. Namun bukan soal ini yang ingin saya tekankan, Ilmu pengetahuan diatas pun didapat bukan dengan gampang. “Asal Nyomot“. Tetapi melalui tahapan-tahapan dan banyak sekali penelitian. Yang perlu kita garis bawahi ialah ilmu pengetahuan itu berjalan dan beekembang, tidak statis. Kebenaran ilmu pengetahuan tidak selalu pasti, ia selalu berkembang dan bisa jadi dipatahkan penemuannya oleh penemu dimasa yang akan datang.

Ketidakpastian ini melahirkan paham pragmatisme. Selain itu kenyataan sejarah menunjukkan bahwa suatu pernyataan ilmiah pada suatu masa yang dianggap benar dapat dipatahkan dilain waktu, akibat dari perkembangan ilmu itu sendiri yang menemukan kebenaran yang lebih reliable. Jadi menurut penganut paham Pragmatisme kebenaran dilihat dari perspektif waktu. Misalnya, jika pada suatu waktu seseorang menemukan fakta-fakta yang mendukung hipotesis A maka tidak berarti hipotesis tersebut diterima selamanya. Bisa jadi di waktu selanjutnya ditemukan fakta yang justru mematahkan hipotesis A. Bukankah jika demikian kebenaran hipitesis itu bersifat temporal? Artinya hanya dianggap benar selama belum ditemukan fakta yang menolak kebenarannya. Jika kelak kebenaran hipotesis itu gugur, maka dianggap tidak terlalu penting selama ia bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Maka seorang pragmatis mengukur kebenaran dengan kriteria sejauh mana pernyataan itu memiliki kegunaan. Kebenaran diukur dari fungsionalitas-nya? Jadi bagi pragmatis selama memberi manfaat maka dianggap benar, dan ketika tidak bermanfaat lagi baru ditinggalkan.

Pragmatisme hanyalah sebuah teori tentang kriteria kebenaran yang berpegang pada metode ilmiah. Tidak termasuk aliran filsafat yang mempunyai doktrin-doktrin filosofis. Mencari pengetahuan tentang alam dan menafsirkan gejala-gejalanya untuk kepentingan hidup manusia. Apakah mereka tidak percaya agama? Percaya, namun dengan anggapan berguna memberikan pegangan moral kepada masyarakat.

Mari kita telaah pernyataan diatas.

1. Jika epistemologi sekuler mengatakan bahwa kebenaran harus dilihat dari pespektif waktu atau bersifat temporal, maka yang perlu dipertanyakan ialah kebenarkan yang tidak termakan waktu yang senantiasa benar dari sejak dan sampai kapanpun di sampaikan. Maka jika ingin mematahkan logika-logika yang sifatnya hanya temporal haruslah paham akan kebenaran yang infinite. Kita tidak bisa memaksakan bahwa apa yang kita anggap benar harus dibenarkan oleh orang lain.

Pemikiran rasional cenderung bersifat solipsistik  dan subjektif. Melalui penalaran rasional akan diperoleh aneka penjelasan mengenai suatu objek tanpa ada konsesus yang dapat diterima oleh semua pihak. Sebuah ide mungkin jelas dan dapat dipercayai bagi seseorang tetapi belum tentu demikian bagi orang lain.

2. Bahwa kaum pragmatis hanya memanfaatkan agama, karena agama dianggap fungsional dalam kehidupan manusia. Mereka mempercayai ajaran agama sepanjang ajaran itu bermanfaat, sementara yang tidak bermanfaat mereka abaikan. Maka yang harus kita sadari ialah, “Bermanfaat menurut ukuran siapa?“

Menurut kaum pragmatis, agama menimbulkan pengaruh baik pada jiwa individu maupun masyarakat. Bukankah jika demikian, manfaatlah yang menjadi ukuran kebenaran bukan kebenaran yang menjadi ukuran manfaat. Maka, tidaklah mengherankan jika ada yang dengan gampang saling menuding dan menyalahkan. Sebab dalam pandangan kaum pragmatis hal itu dipandang tidak bermanfaat.

Mempelajari sebuah agama bisa saja berangkat dari keragu-raguan atau  awalnya bermula dari percaya kemudian berakhir semakin percaya atau justru menjadi ragu dan tidak percaya. Berbeda dengan kajian keilmuan yang justru berangkat dari keraguan (skeptis) dan diakhiri dengan percaya atau tidak percaya. Seorang ilmuwan mula-mula selalu ragu akan sesuatu. Jika ada suatu pernyataan yang disuguhkan kepadanya maka seorang ilmuwan memerlukan penjelasan logis tentangnya, dia meminta bukti empirisnya, memerlukan fakta-fakta dalam dunia fisik yang mendukung penjelasan tadi. Bagaimana jika dalam rangkaian pengetahuan ilmiah yang sudah ia ketahui terdapat satu saja pengetahuan yang salah?

Friday, 30 August 2013

Sila sindenan Markonah

Pancasila.
Rumusan agung dasar negara,
Berubah sudah jadi moto para keparat mencari laba.

Keuangan Yang Maha Esa,
Korupsi yang adil dan lupakan kemanusiaan beradab,
Persatuan penjahat negara saling menjaga.
Kerakyatan yang dipolitisir oleh nikmat mencari selamat,
kebijaksanaan dalam usaha memiskinkan bangsa.
Keadilan bagi seluruh anggota dewan dan parlemen dalam menikmati hasil bersama.

Setan, apa pantas aku samakan dengan mereka.
Setan dan iblis pun tetap konsisten dengan ikrar kesetanan dan keiblisannya.
Lalu, ikrar manalagi yang mereka ingat saat menjadi wakil mengatur negeri?
Sumpah serapah jabatan dan kitab suci?
Ah, itu hanya simbolitas upacara pelantikan.Atau, janji-janji saat kampanye?

Itu juga cuma rayuan.
Presidenku mendua,
Negara entah berada pada urutan ke berapa.Partainya lebih penting,
Eksistensinya lebih narsis,
Perihatinnya seujung langit.

Hakim-hakim tipikor tidak lagi ingat sila-sila Pancasila.
Atau pun terlalu sibuk mengingat nominal suap yang harus dijual-belikan.
Terdakwa mengajukan banding,
Saksi berbalik kena tuding.

Pengacara berteriak dan tertawa sumbing
“Orderan lancar, cing.”
Ah, dikiranya aku terlalu lancang nantinya.

Sudahlah, ini ocehan Markonah yang mungkin sakit jiwa.
Bentuk lara dan kecewanya sebagai warga.Siapa peduli siapa sekarang?
Markonah hanya buruh sinden yang tidak diperhitungkan.
Bahkan mungkin nyawa hilang tak disemayamkan.
Tapi, Markonah telah ikrar.
Dia tetap Markonah yang melawan kebejatan.
Markonah tetap nyinden,
Tak peduli presiden bikin insiden.

Pancasila, Sila sindenan MarkonahAyda IdaaBraemar Hill, 6 March 2013Foto: conworld.wikia

Monday, 19 August 2013

Fenomena Dibalik “Masuk Angin“. Ada apa gerangan?

Hayo istilah yang tepat itu “Masuk angin“ atau “Angin masuk “ hehehe...
Saya akan membahas perihal satu istilah ini yang kerap sekali mengganggu kita dalam beraktivitas. Tepatnya karena sejak kemarin bahkan beberapa bulan lalu teman saya Si Reztoe Bumi ini bertanya terus soal masuk angin yang saya anggap sekedar candaan, eh ternyata sampai pagi tadi ditagih juga. Baiklah siapkan sabuk pengaman kita bahasa satu per satu.
A. Apa itu masuk angin?
Anda pasti bertanya-tanya kenapa sich kita bisa mengalami masuk angin. Tapi sebelum kita jauh membahas itu lebih dalam kita sebaiknya mengenali dulu “Masuk angin itu apa“.
Masuk angin?
Sebenarnya, angin tidak benar-benar masuk ke dalam tubuh. Yang benar adalah, tiupan angin menyebabkan suhu tubuh menurun. Lalu, muncul gejala seperti pusing, meriang, pegal-pegal, perut kembung, batuk-pilek dan demam. Di dunia kedokteran, istilah masuk angin adalah bagian dari gejala flu, khususnya yang sering terjadi pada pergantian musim (pancaroba). Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Common Cold.
The common cold (also known as nasopharyngitis, rhinopharyngitis, acute coryza, or a cold) is a viralinfectious disease of the upper respiratory tractwhich primarily affects the nose. Symptoms include coughing, sore throat, runny nose, sneezing, and fever which usually resolve in seven to ten days, with some symptoms lasting up to three weeks. Well over 200 viruses are implicated in the cause of the common cold; the rhinoviruses are the most common.
This picture about a representation of the molecular surface of one variant of human rhinovirus (representasi permukaan molekul salah satu varian rhinovirus).
(Weiitzzzzz.... Kalau kata teman saya “Ga british ga keren“ Hehhee... But It doesn't only about keren atau ga keren ya. Tetapi karena memang dalam istilah kedokteran masuk angin itu belum terdefinisikan, selain itu tidak ada salahnya kita juga sesekali mencuri pengetahuan dunia barat. Selama kita tidak terjebak dalam sekulerisme ya tidak apa-apa. Nah.. Loh jadi ngelantur. Menurut dunia kedokteran istilah masuk angin ialah tidak enak badan atau gejala flu. Tidak termasuk golongan flu burung kok)
Kembali menuju waras.
B. Bagaimana kita bisa masuk angin?
Proses terjadinya masuk angin, berbeda dengan pengaruh hawa dingin yang mengenai seluruh tubuh, baik bagian belakang maupun depan. Ini karena, saat suhu udara turun, temperatur tubuh ikut turun. Sementara pada masuk angin, paparan angin umumnya hanya mengenai salah satu sisi badan, sehingga bagian itu saja yang turun suhunya. Misalnya pada perut sehingga kita merasakan mual dan kembung.
Masuk angin akut lebih mudah dikenali, karena biasanya berujung pada gejala flu seperti bersin-bersin dan pilek. Bila masuk angin berlangsung terus menerus, bisa menimbulkan rasa sakit kronis. Hal yang paling sering saya rasakan secara pribadi ialah nyeri leher dan pundak, gara-gara AC.  Masuk angin juga bisa menyebabkan perut kembung, karena dibagian tubuh terdapat titik-titik saraf yang berhubungan dengan organ bagian dalam. Jika titik-titik itu kena rangsangan, organ dalam ikut kena. Titik-titik ditubuh itu seperti dapat kita lihat dalam gambar dibawah ini.

(Lebih lanjut nanti akan saya bahas juga mengenai angin duduk. Hehehee.... Anginnya punya lantat ya kok bisa duduk? Wuuushh.... Ngawur)
C. Sebenarnya apa yang menyebabkan masuk angin itu terjadi?
Ada beberapa penyebab kenapa kita menderita gejala masuk angin ini. Diantaranya adalah cuaca dan masuknya udara ke dalam tubuh.
Cuaca yang dingin dapat menimbulkan mekanisme “vasoconstricion“ dimana terjadi penyempitan pembuluh darah kita. Akibatnya mekanisme untuk menghambat pengeluaran kalori berlebihan dari tubuh, sehingga tidak terjadi Hipotermi. Nah, Vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah ini dapat mengakibatkan peredaran darah di tubuh kita kurang lancar, sehingga hasil metabolisme, dan asam laktat terakumulasi pada otot-otot kita. Akibatnya pegal-pegal dan seluruh tubuh kita tidak enak.
Penyebab lain adalah masuknya udara dan tertelan melalui rongga mulut atau istilah kedokterannya “aerophagi“. Gejala umum yang ditimbulkan adalah perut kembung akibat akumulasi gas dan udara yang masuk terkumpul secara berlebihan di organ lambung. Penderita akan mengalami dyspepsia, yaitu nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut bagian atas atau dada yang mengakibatkan perut terasa penuh, sakit bahkan terasa terbakar. Bisa juga disebabkan oleh kebiasaan merokok. Misalnya saat kita mengendarai motor atau menaiki rolling coster dengan mulut terbuka. Bahkan jika terlalu parah bisa muntah-muntah.
(Tapi yang muntah ga selalu karena kembung loh. Bisa-bisa ibu hamil ikut salah sangka nanti. #Eh).
Banyak yang percaya bahwa masuk angin dapat diatasi dengan kerokan. Benarkah?
(Seumur-umur saya ga pernah namanya kerokan kalau pijet cuma bisa dihitung tangan itu pun sudah bikin kapok sampai sekarang ga mau namanya pijet) .
Well kita bahas kerokan disini.
D. Kerokan?
Coba perhatikan gambar bekas kerokan dibawah ini! Bagi saya ini mirip orang di cambukin atau cakaran macam hehehee....
Banyak orang sangat percaya pada khasiat kerokan hingga baru akan merasa sembuh jika telah dikerok. Konon, warna merah yang timbul pada kulit setelah kerokan adalah pertanda kalau Anda memang masuk angin. Makin pekat warnanya, pertanda makin banyak pula angin yang berdiam di tubuh kita.
(Weiiiittss... Entah mitos ini berkembangnya darimana).
Padahal, itu pertanda bahwa pembuluh darah halus (kapiler) di permukaan kulit pecah hingga terlihat sebagai jejak merah di tempat yang dikerok. Dengan kerokan itu banyak orang yang masuk angin merasa lebih baik. Sebab dengan kerokan dan pijat, otot menjadi lemas dan pembuluh darah halus di dalamnya melebar sehingga lebih banyak oksigen dan nutrisi yang tersedia untuk jaringan otot. Selain itu, toksin yang menyebabkan pegal dapat segera dibawa aliran darah untuk dibuang atau dinetralkan. Nah...loh.
Kita bahas kerokan lebih panjang sedikit.
Kerokan tak hanya populer di Indonesia. Vietnam menyebut kerokan sebagai cao giodi, Kamboja menjulukinya gah kyol,sementara di China dikenal dengan sebutangua sua. Bedanya, orang China memakai batu giok sebagai alat pengerok, bukan kepingan uang logam. Biasanya kerokan menggunakan berbagai pilihan minyak dan balsem, yang sering saya lihat masyarakat menggunakan minyak kayu putih.
Kerokan pada dasarnya mirip prinsip pemanasan dengan menggunakan moxa yang sering dipakai saat jarum akupunktur ditusukkan pada tubuh untuk mengatasi masuk angin. Prinsip ini juga tidak jauh berbeda dengan model terapi kop yang biasanya menggunakan alat seperti tanduk, gelas, karet, tabung bambu dan lain-lain.
Berbahayakah kerokan?
Kerokan merupakan salah satu usaha untuk menyeimbangkan suhu tubuh. Guna menjelaskan pola keseimbangan itu, ada konsep dasar pengobatan Cina yang membagi tubuh jadi bagian tubuh panas (disebut “yang“) dan bagian tubuh dingin (“yin“).
Bagian yang meliputi kepala serta tubuh bagian belakang. Sementara yin terdapat pada tubuh bagian depan. Menurut konsep “yin yang“, orang terbilang sehat bila “yin“ dan “yang“-nya dalam keadaan seimbang.
Kalau tidak seimbang, akibatnya ya sakit. “Yang“ terlalu tinggi, “yin“ rendah, ya sakit juga.
Dalam hal masuk angin, penurunan suhu tubuh menyebabkan pembuluh darah di kulit tubuh bagian belakang mengalami penyempitan (konstriksi). Pembuluh darah kulit yang mengalami konstriksi memberi reaksi dingin. Konstriksi itu merupakan efek kompensasi. Saat suhu tubuh bagian belakang menurun, otomatis pembuluh darah kulit berkonstriksi agar seluruh tubuh tidak dingin.
Konstriksi itu bisa mengakibatkan oksigenasi pada permukaan tubuh (terutama bagian belakang) jadi turun atau berkurang, sekujur badan terasa sakit. Selanjutnya, muncul gejala bersin. Nah, tindakan kerokan bisa mengubah suhu tubuh jadi seimbang kembali. Nah loh, jadi konsep dasarnya itu kerokan adalah usaha menyeimbangkan suhu tubuh bukan “mengeluarkan angin“ seperti mitos yang tersebar sejauh ini di masyarakat.
Sampai saat ini belum ditemukan efek samping kerokan. Yang jelas, cara ini bisa menimbulkan ketagihan. Kalau jaringan kulit dikerok, akan timbul reaksi jaringan. Bisa reaksi lokal, atau yang bersifat neural (saraf). Reaksi lokal terlihat langsung, misalnya warna merahnya kulit. Kerokan dengan intensitas kuat dan frekuensi rendah mengenai titik-titik saraf yang berhubungan dengan otak sehingga organ ini menyekresikan hormon endomorfin (B-endorfin, dinorfin, dan enkepalin). B-endorfin menimbulkan rasa nyaman karena ia berfungsi mengendalikan rasa nyeri. Adanya zat-zat itu dalam darah menyebabkan penderita merasa lebih bugar. B-endorfin juga merangsang organ viscera, terutama paru-paru dan jantung, sehingga penderita bisa bernapas lebih lega, serta peredaran darahnya jadi lebih baik.
Penyebab ketagihan pada kerokan adalah zat morfin (endorfin). Padahal, tujuan tubuh mengeluarkan zat morfin hanya untuk reaksi lokal. Karena kebiasaan, penderita pun jadi ketagihan. Nah, masih ingin bertahan dengan cara tradisional ini? Kalau begitu, kerok saja.
Namun untuk ibu-ibu hamil tidak disarankan untuk kerokan. Selain bisa menyebabkan kontraksi dini juga bisa memicu bayi lahir prematur. Jika ada kesempatan akan dibahas di artikel lainnya secara lebih detail.
(Selama kerokan tidak dimasukan ke dalam pasal tindak penganiayaan tidak perlu anda kwatirkan. Hehehee...)
Yang perlu diwaspadai adalah masuk angin yang disertai keringat besar, rasa nyeri atau rasa berat di dada, yang biasa disebut sebagai angin duduk. Kondisi ini bukan sekedar masuk angin berat, tetapi identik dengan sindrom serangan jantung koroner akut, yang bisa menimbulkan kematian dalam 15-30 menit sejak serangan pertama. Karena itu, jika tiba-tiba merasa nyeri dada, sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik apapun.
E. Apa yang harus dilakukan?
Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menindaklanjuti dan mencegah masuk angin. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Minum obat-obatan; jika anda mengalami gejala maag dapat meminum obat anti asam lambung. Bila ada gejala demam dapat minum obat paracetamol. Sedangkan bila ada gejala ketegangan otot bisa meminum obat relaksasi otot seperti myonal.
2. Minum jamu ; jamu atau obat “warung“ yang mirip iklan berbunyi weee..eweess..eweess...bablas angine hanya berfungsi mengeluarkan udara dalam saluran pencernaan (jadi sering buang gas), dan menghangatkan badan karena banyak mengandung jahe, dll. Tapi, kalo jamu-jamu buat pegel-pegel..lebih baik jangan..karena banyak yang mengandung Steroid dan Obat penghilang sakit non steroid (NSAID), yang dapat mengakibatkan banyak komplikasi lain, seperti: Sakit lambung, bahkan sampai lambungnya jebol (bocor)..Hati-hati mengkonsumsinya, jangan keseingan.
3. Jaga makanan dengan asupan nutrisi seimbang. Kurangi konsumsi makanan berlemak, perbanyak konsumsi buah dan sayuran serta kurangi makanan yang mengandung banyak gas seperti kol dan sawi.
4. Lakukan olahraga yang melibatkan aktifitas fisik minimal 3 kali seminggu dengan durasi minimal 30 menit setiap sesi.
5. Istirahat yang cukup; lakukan istirahat tidur selama 6-8 jam sehari.
6. Dan yang penting sesuaikan pakaian yang anda kenakan dengan suhu lingkungan di luar tubuh. Hindari kontak langsung udara luar dengan kulit. Terlebih bila suhu sedang dingin.
7. Untuk anda yang mengendarai sepeda motor, jagalah pusar anda. Bila melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan bermotor tempelkan koyo dipusar anda. Fungsinya bukan untuk menghalau angin, tetapi agar pusar kita tidak dingin, ini ada kaitannya dengan meningkatnya asam lambung kita.
8. Minumlah minuman yang hangat sebelum dan sesudah makan, jangan biasakan minum air es. Ini juga bisa meningkatkan asam lambung dan lama-lama bisa jadi maag, perlu dicatat bahwa penyakit maag bukan hanya disebabkan karena sering telat makan tetapi juga bisa karena faktor ini.
9. Puasa, inilah misteri kehebatan puasa. Jika kita sering berpuasa maka asam lambung kita tetap terjaga. Artinya lambung kita jarang bekerja sehingga asam lambung yang dikeluarkan untuk memproses makanan juga jarang dikeluarkan berlebihan. Tapi ingat, kalo buka puasa jangan terlalu kenyang karena itu sama saja. dan jangan biasakan buka puasa minum yang terlalu dingin.
10. Melakukan Terapi BEKAM. Terapi bekam merupakan sebuah terapi yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW. Terapi ini bertujuan untuk :
1.Mengeluarkan Darah Kotor dan toksin
2.Meningkatkan Antibodi tubuh
3.Memperbaiki jaringan organ tubuh
Sekiranya inilah yang dapat saya bahas mengenai Masuk Angin dan kroni-kroninya. Semoga bisa sedikit menambah kelengkapan informasi yang anda butuhkan.
*Diintisarikan dari berbagai sumber.

Tuesday, 16 July 2013

Dalam Sujud Memelukmu



Jika rasaku dan rasamu itu menyatu, kita akan bertemu pada sujud sepertiga malamku.

Jika tarikku adalah hembus nafasmu, kita akan bertatap pada sujud subuh menyemput.

Jika langkahku senada gerak kakimu yakinlah dhuha esok pagi menyenandungkan tapakmu.

Jika gemulaiku seraya ayun jarimu, pada dhuhur ku titipkan salamku.

Jika lelahku dan lelahmu itu tertuju, damai ashar meniadakannya dalam semburat syahdu.

Jika senjaku jua senjamu saling berharap maka satulah jalan yang kita tuju, Maghrib untukNya.

Bilakah penyerahanku dan penyerahanmu itu saling terpaut, pada Isya' kita terdiam meminangNya.

Jikalaulah masih tersemat kira yang meragu, bisalah jadi hanya tahajudlah yang akan menenangkan pengharapanmu.
Pun sedemikian bagiku.






Dalam Sujud Memelukmu
BraemarHill, 16 July 2013
01.15 am
Ay

Monday, 15 July 2013

Pengaruh Pragmatisme terhadap Kaum Intelektual

Ada sebuah pernyataan, “Pragmatisme yang lahir setelah epistemologi sekuler memvonis bawa tak ada cara menemukan kebenaran yang sungguh-sungguh dapat diandalkan oleh manusia. Tak ada kebenaran yang bernilai mutlak. Semua kebenaran itu relatif termasuk agama, tidak hanya satu tetapi banyak, tergantung dari sudut mana memandang. Kebenaran agama juga tidak bernilai mutlak, karena kemutlakan hanya ada disisiNya. Setiap kebenaran termasuk kebenaran wahyu tak kebal kritik semua masih bisa dipertanyakan kebenarannya.“

Mari menanggapinya dengan kepala yang jernih dan hati yang tidak menyombong lebih dulu. Pernyataan seperti diatas sering mempengaruhi dasar-dasar pemikiran sebagian kaum yang mengaku sebagai generasi intelektual. Jika tidak arif menyikapinya kita bisa dengan sia-sia jatuh sebagai korban cacat pemikiran.

Mari sekilas kembali menelaah secara jeli bahwa, relativisme epistemonologis diorbitkan melalui sebuah argumen yang menumpang pada teori relativitas alam dan sifat kejamakan ilmu ukur. Relativisme epistemonologis dapat dengan mudah melemahkan keimanan. Bukti yang kuat ialah banyaknya orang percaya kepada Tuhan tetapi tidak kepada agama. Agama hanya dianggap sebagai kumpulan ritual untuk menenangkan jiwa yang kalut dalam dosa. Serta hanya mengharapkan Tuhan sebagai tempat memohon ampunan. Agama hanya dipandang secara pragmatisme. Tanpa isi tanpa esensi.

Coba kita pahami lebih lanjut apa itu pragmatisme. Kaum pragmatis menganggap bahwa manfaatlah yang lebih tepat dijadikan sebagai ukuran kebenaran. Dengan mengutamakan bahwa sebuah kebanaran harus mempunyai manfaat praktis dalam kehidupan manusia. Lalu bolehkah saya bertanya, menurut kacamata siapakah manfaat itu bisa dikatakan memberi nilai praktis? Tentu setiap orang tidak mempunyai pandangan yang sama. Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran pernyataan diatas bahwa kebenaran itu relatif. Maka jika kebenaran ialah relatif apakah masih bisa disebut sebuah kebenaran? Bisakah dijadikan sebagai tolak ukur berkehidupan? TIDAK.

Apakah tidak ada kaum pragmatis yang mempercayai kebenaran agama? Ada. Tetapi dalam prakteknya mereka hanya sebatas mempercayai dan mengambil secuil saja yang menurutnya bermanfaat dan yang tidak (menurutnya) akan diabaikan. Dimanfaatkan hanya sebatas kedudukan fungsional agama meskipun mereka mengakui bahwa agama mempunyai pengaruh yang baik dalam jiwa individunya. Inilah yang lebih disebut beragama tapi cuma sampai pada kulitnya.

Relativisme beserta anak buahnya seperti pragmatisme, solipsisme, perspektisme, skeptisme, inderterminisme dan seterusnya hanya dapat dibenarkan jika terletak pada tempatnya. Sayangnya, banyak pihak menggeneralisasi relativisme ini sehingga mencakup kebenaran lain yang “pasti benar“ menurut otak waras. Menyusup didalamnya. Maka jika kita tidak teliti akan sangat gampang dipengaruhi bahkan sadisnya dikibuli.

Menurut penganut epistemonologi sekuler, antara sains dan agama tidak dapat dikonfrontasi. Masing-masing harus berdiri pada wilayahnya. Agamawan berkutik pada teoritas agama dan ilmuwan pada bidang sains. Keduanya tidak boleh mengintervensi. Harus tahu batasannya.

Fine, bagi penganut epistemonologi sekuler mungkin hal ini benar. Tetapi mari kita coba berpikir selangkah didepan. Ilmu pengetahuan dan Sains seharusnya tidak pernah dilepaskan dari pengaruh terhadap keTuhanan. Mari kembali kepada Sang Maha Tahu. Sains seharusnya beremanasi dari segi keimanan/keTuhanan. Menyingkirkan Tuhan dari wawasan berpikir merupakan kesalahan paling besar, hal ini hanya akan menghasilkan sains yang rabun. Ibarat orang rabun jalannya lambat dan sering kesasar. Begitu juga dengan sains yang rabun. Bukanlah hal ini justru memposisikan diri sebagai makhluk paling pintar? Sepintar-pintarnya manusia ialah dia yang paling tahu letak kekurangannya maka dari sanalah ia belajar. Belajar dan belajar. Berproses untuk sesuatu yang lebih baik. Maka nyatalah ia tahu dari segala yabg diketahuinya ternyata ia belumlah tahu, sebab DIA-lah sang pemilik segala Pengetahuan tak terkecuali pengetahuannya sendiri.

Saturday, 13 July 2013

Bukan Hanya Sebatas

Apa itu cinta?
Manusia masih terus mencari apa itu cinta. Mereka berusaha menerjemahkannya dalam berbagai kalimat. Ada yang pernah bilang bahwa, “Cinta adalah pengorbanan“. Bagaimana bisa dikatakan demikian? Jika ketika aku merasa berkorban berarti cinta di dalam diriku telah pudar. Ia terkalahkan oleh perasaan merasa telah berkorban. Lalu apakah cinta tidak butuh pengorbanan? Tidak.

Ketika cinta telah diracuni perasaan berkorban maka yang ada ialah kalkulasi. Menghitung dan menghitung apa yang telah dikorbankan. Sebanyak apa. Apa saja. Semuanya dihitung dengan barometernya. Maka yang demikian ialah matematika. Hitungan. Sedang dalam cinta tidak ada yang namanya perasaan merasa berkorban.

“Semua telah aku berikan tapi apa yang kamu lakukan kepadaku? Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu?“  Pernah mendengar kekasih kalian berkata demikian? Maka kandaslah cintanya. Ini bukan lagi cinta, sebab cinta tidak akan menyebut pengorbanannya. Lha wong pengorbanannya itu tidak seberapa dibanding cintanya, jika ia benar-benar cinta.

Keindahan dalam cinta itu ialah mencintai. Apapun dan siapa pun. Bahkan tidak mengharap sesuatu/sesiapa itu berbalik mencintainya. Mencintai bagi sang pencinta ialah keindahan dalam percintaan. Ia tak harus bersambut tangan, ia tak harus dikatakan, tak harus disampaikan. Tunggu-tunggu. Bagaimana bisa aku katakan tak harus disampaikan? Ya harus dong, harus disampaikan. Tetapi sampaikanlah dengan cara pecinta mencintai cinta.

@melonov: Hayah.. Mbulet Ay. Apa maksudnya ini?

Begini-begini. Dalam sebuah chat intern dengan salah satu teman amburadulku aku pernah membahasnya. Tepatnya aku selalu lupa kapan terakhir chat dengannya, Melonov.
Seapes-apesnya seorang pecinta ialah ia yang tak berani mengungkapkan cintanya. Sudah masuk dalam katagori Nelongso Akut . Konon katanya lebih mirip pecundang. Tetapi ya tidak perlu harus mengungkapkannya secara ekstrim. Bisa melalui gerakan bahasa tubuh, melalui bahasa mata ataupun bahasa bibir. Tetapi bukan aku menyuruh kalian melirik sampai belekan . Bisa jadi itu lebih norak. Ada banyak pecinta yang mati penasaran, hanya karena tidak berani menunjukkan bahwa ia mencintai seseorang. Mengenaskan.

Okey, kembali kepada bahasan mengenai apa itu cinta?

Sepertinya ketiak-ketiak cemara pun ikut menerjemahkan bahwa cinta itu seperti desir-desir angin yang menghembusnya. Lalu apakah semilir juga cinta?

Cinta tak terjemah. Tidak oleh tata bahasa dan gerakan. Tidak terjemah sekalipun. Cinta ialah sesuatu yang sakral. Antara kau dan kekasihmu. Antara kau dan keluargamu. Antara kau dan teman-temanmu. Antara kau dan musuhmu. Dan yang terpenting ialah antara kau dan DIA. DIA DIA dan DIA. Walau bisa jadi memang antara kau dan aku. Aku? Iya. Kau dan aku pun tertaut karena cinta. Entah siapa pun engkau terpaut dengan padanganku ataupun tidak. Tetapi jika kau membaca ini, tertautnya itu karena cinta. Cinta sebagai sesama manusia.

Ini tentang sebuah. Bukan hanya sebuah. Meski mungkin telah terlewatkan ribuan mil jaraknya. Tak tertuju sinar mata. Tidak terjumpa badannya. Jumpa?

Jika bagimu pertemuan ialah tubuh bertemu tubuh maka sesungguhnya tidak bisa dikatakan bertemu. Bagaimana kau yakin bertemu? Mungkin tubuh bisa kau peluk tapi hati entah hinggap dimana. Maka pertemuan itu tak mesti tubuh bertemu tubuh. Mata menatap mata. Tanpa bertatap mata pun aku tetap selalu bertemu denganmu. Kenapa tertawa? Kau tak percaya? Bagaimana aku bisa berlari jauh jika setiap pandanganku adalah dirimu. Maka engkau menjelma disetiap sudut ruanganku.

Kadang bertemu tak jua selalu itu. Bisa jadi bertemu ialah hati yang sama-sama mengirimkan lantunan al-fatihah. Bertemu dalam kediaman do'a. Maka menurutku pertemuan yang paling indah ialah ketika kita saling bertemu dalam sentuhan dahi kepada tanah. Sujud. Bertemu dengan saling mengirimkan do'a yang terbaiknya.

Terkadang manusia sering dibuat bingung dengan cinta. Bingung? Itu karena kamu tidak mengenalinya. Bagaimana bisa kenal jika terhadap cintaNya saja kamu acuh? Mengenal cinta dan mengendalikan rasa cinta itu sendiri ialah dengan mengenali cintaNya. Iya, cintaNya. Bukankah DIA Maha Pecinta?

@Rey: Aku bingung mbak sma perempuan. Kadang dia baik, kdang bawel dan marah2 ga jelas.

Heeheheheehee.... Saya saja yang perempuan kadang bingung. Kenapa bisa begitu. Tiba-tiba sedih secara gak jelas dan marah-marah gak jelas. Apakah mungkin ini sydrome baby blues? Hushh.... Itu kan khusus emak-emak habis melahirkan.

Jangan terburu-buru menyimpulkan kecurigaanmu. Bisa jadi kemarahan ialah cinta yang menyamar. Seperti cemburu ialah rindu yang menyusup. Biarkan saja perempuan marah-marah. Cukup dengarkan jangan ditanggapi sedikitpun. Yach, walaupun kalau tidak ditanggapi justru lebih parah. Biarkan dulu dia olahraga beberapa jam. Nanti kalau sudah reda baru tanya, “capek gak marah-marah?“ kasih air minum. Hehehee..... Bercanda ya. Tetapi memang jurus yang tepat ialah cukup didengarkan. Perempuan ngomel itu cuma minta didengarkan tidak dijawab. Kalau toh dia sudah capek pasti akan menyadari betapa dirinya sungguh-sungguh memang terlalu.

Cinta tak terlepas daripada rindu. Lalu jika kamu merasa mencintai seseorang apakah selalu dibarengi rindu? Rindu dengan sesuatu yang bahkan kamu tidak tahu itu. Bahkan terkadang kemarahannya pun kau rindukan.

Tetapi apakah kau juga merasa rindu padaNya? Paling tidak rindu pada jawaban atas do'a-do'amu. Jika manusia merasa rindu maka ia akan mencari jalan mendekatiNya. Agar tidak ada lagi jarak antara hatimu dan DIA. Sebab kau tak mau menciptakan ruang rindu yang menyekat. Kau ingin selalu menghadirkanNYA hanya karena rasa cintamu kepadaNYA. Bukan ketakutan. Yach, kita tidak perlu takut. Tetapi yang perlu kita tumbuhkan ialah rasa cinta kita terhadapNya bukan rasa ketakutan yang mendalam.



Seperti begitu pun padamu, kekasih
Bagaimana rindu akan datang kepadaku?
Jika setiap detak ialah namamu.
Bagaiamana kau berani merasa sendiri, kekasih?
Jika dalam setiap sujud aku memelukmu,
Memeluk hatimu,
Memeluk ruhmu,
Memeluk nafsmu,
Memeluk  serangkaian dirimu diluar tubuhmu,
Dalam alifku
Memelukmu dengan cintaku terhadap CintaNya lebih dulu.
Kau rasakan itu kan, kekasih.
Aku memeluk tapi bukan tubuhmu yang ku rengkuh.


Seharusnya memang tidak ada rasa takut kehilangan terhadap suatu atau sesiapa pun kan? Bagaimana yakin merasa kehilangan jika selalu tertanam di dalam hatimu? Bagaimana mungkin merasa jauh, jika jarakmu ialah hanya sebatas detak dan jantung? Semakin kau mencintaiNya maka semakin tidak terlihat ketakutan cintamu kepada makhluknya. Cintailah makhluk sebatas kemakhlukannya saja tanpa mengalahkan cintamu kepadaNya.

Tuesday, 9 July 2013

PKB buka cabang baru di Hongkong atau kampanye terselubung dibalik acara pengajian?

Well, setelah banyaknya teman-teman saya di Indonesia yang mempertanyakan kebenaran tentang dibukanya PKB Cabang Hongkong seperti yang diberitakan oleh merdeka.com ataupun metronews.com dan beberapa media lainnya maka saya mencoba mencari tahu. Benarkah PKB mendeklarasikan cabang barunya? Atau seperti opini kebanyakan masyarakat “PKB mencari dukungan dari BMI“.


Berikut adalah sepenggal paragraf yang saya ambil dari pemberitaan sebuah mass media.
Metrotvnews.com, Jakarta: Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Imam Nahrawi mendeklarasikan berdirinya PKB Cabang Hong Kong di Victoria Park.
Berdasarkan siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (8/7), menyebutkan acara deklarasi pada Minggu (7/7) dihadiri ribuan tenaga kerja Indonesia yang tergabung dalam Buruh Migran Indonesia dan Komunitas Migran Indonesia di Hong Kong.
Imam mengatakan, DPC Perwakilan PKB Hong Kong diresmikan bersamaan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-15 PKB sebagai langkah  menambah jangkauan dan kiprah PKB di luar negeri.


Apakah berita tersebut sesuai dengan kenyataan dilapangan? Tidak.
Berikut juga saya kutipkan sepenggal paragraf dari merdeka.com yang menuliskan berita senada.
Anggota Fraksi PKB DPR RI itu (red: Imam Nahrawi) juga menegaskan bahwa konsistensi perjuangan PKB terhadap hak-hak buruh migran melalui Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang dipimpin Muhaimin Iskandar.
"Harap dicatat, PKB merupakan partai yang selama ini peduli dan konsisten memperjuangkan hak-hak tenaga kerja," katanya.
Melalui Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar maupun anggota Fraksi PKB di DPR Senayan, lanjut Imam, PKB membuat sekaligus turut mengawal berbagai kebijakan yang menyangkut kepentingan, kemaslahatan, serta kesejahteraan tenaga kerja Indonesia di luar negeri."Para tenaga kerja di luar negeri adalah pahlawan bangsa yang sedikit pun tidak boleh dilupakan kontribusi dan eksistensinya," tandas Imam.
Imam Nahrawi menambahkan, perjuangan PKB ke depannya akan semakin maksimal bila disertai dukungan dan doa dari seluruh tenaga kerja di Hongkong. Untuk itu, Imam berharap para tenaga kerja menggunakan hak pilihnya serta bersedia membantu secara ikhlas memenangkan PKB pada Pemilu 2014.(mdk/ded)

Apa yang sebenarnya terjadi di Victoria Park minggu 07 juli 2013 itu? 
Berikut ini adalah kutipan pemberitahuan acara pengajian dan sholawatan yang saya ambil dari DDHK.



DDHK News, Hong Kong – Memperingati miladnya yang ketiga dan menyambut Ramadhan 1434, Komunitas Migran Indonesia di Hong Kong (KOMI HK)  mengadakan Sholawat Senandung Religi dan Dzikir Akbar bersama H. Rhoma Irama, Ustadz H. Muhammad Natta, Mustafa (Debu), Jundhy Syaputra, dan Nasyid Bana. Ahad 7 Juli 2013, di lapangan Victoria Park, Causeway Bay, pukul 09.30 sampai selesai. Informasi: 92556***, 95117***. (Rima Khumaira/ddhongkong.org).*

Apakah yang sebenarnya terjadi?
Saya akan menjelaskannya perlahan. Sebenarnya acara minggu pagi di Victoria Park itu BUKANLAH MILIK PKB. Tetapi adalah perayaan HUT ke 3 KOMI Salah satu organisasi BMI di Hongkong. Pada acara tersebut telah diumumkan sebelumnya bahwa acaranya adalah  “Sholawat Senandung Religi dan Dzikir Akbar“ yang konon mengundang H. Rhoma Irama sebagai salah satunya. Tetapi pas hari H pihak panitia penyelenggara mengatakan bahwa bang haji tidak bisa datang karena ada kepentingan umroh. Loh, memangnya tidak melakukan konfirmasi jauh-jauh hari? Saya rasa rencana umroh tentu tidak beliau kerjakan secara mendadak. Pasti ada rencana, kalau memang tidak bisa hadir tentu tawaran itu akan ditolaknya. Tetapi ada beberapa kabar yang mengatakan bahwa pihak panitia penyelenggara memang tidak mengundang bang haji. Manakah yang benar? Pihak-pihak bersangkutan tentu lebih paham ketimbang saya.
Kembali kepada deklarasi PKB. Jadi begini, dalam acara tersebut yang awalnya memang bertajuk pengajian dan sholawatan lagu-lagu religi berubah menjadi acara kampanye dari PKB. Menurut keterangan teman hadir MC beberapa kali menyebut-nyebut PKB dalam sambutannya. PKB sebagai pendukung acara. Pada saat itulah banyak penonton yang kecewa bahkan mencaci panitia penyelenggara merasa dibohongi. Uang ticket tidak kembali padahal yang diharapkan sebagian besar pengunjung adalah acara pengajian dari bang haji. Jadi sangat tidak benar bahwa kedatangan perwakilan PKB itu dalam rangka pembukaan cabang barunya di Hongkong. Lah, mereka yang menonton itu beli kok ticketnya.


Ketika beberapa media gencar memberitakan mengenai pembukaan cabang baru PKB di Hongkong hal ini sempat membuat beberapa pihak kecewa. Terutama kalangan BMI yang merasa kehadiran mereka siang itu disalah manfaatkan. Pihak panitia dari KOMI sendiri pun telah meminta maaf atas ketidak hadiran Rhoma Irama. Sekali lagi ketertarikan dan antusiasme BMI bukan menyambut canbang baru PKB tetapi adalah iklan mengenai H. Rhoma Irama sebagai salah satu pengisi dakwah.
Hendaknyalah hal ini bisa diambil pelajaran oleh pihak-pihak yang lainnya jika ingin mengadakan acara serupa. Bukan tanggapan baik yang diterima oleh PKB justru sebagian besar BMI yang hadir merasa tertipu dengan acara kampanye terselubung berkedok pengajian tersebut. Banyak yang tidak suka tentunya, alih-alih mendapat dukungan ribuan (seperti yang ditulis media) justru cacian kemarahanlah yang mereka keluarkan.
Saya rasa bukanlah even yang tepat jika ingin berkampanye dan mencari dukungan. Mencari dukungan itu sah-sah saja, tetapi seharusnya datanglah dengan nama partainya bukan terselubung secara demikian. Semoga hal ini dapat menjadi pelajaran bagi KOMI agar tidak mudah dimanfaatkan untuk hal-hal lainnya. Sebenarnya bukan baru kali ini partai-partai memanfaatkan organisasi BMI. Sebelumnya juga ada partai yang memanfaatkan kedekatannya dengan organisasi BMI. Tetapi yang perlu digaris bawahi adalah tidak semua organisasi bisa dimanfaatkan seperti yang terjadi kali ini kepada KOMI. Dimanfaatkan atau memang kerjasama? Hanya mereka yang tahu dan Allah Maha Mengetahuinya. Salam. (Ay)

Sunday, 7 July 2013

Pentingnya Management Waktu

Terlambat. Apapun bentuk alasannya saya lebih sering tidak toleransi dengan pelakunya mengenai sebuah keterlambatan. Apalagi bila sudah disetujui jadwalnya entah itu pertemuan penting, sekedar makan, ke dokter, apapun jenisnya yang berhububgan degan ketepatan waktu. Termasuk kalau terlambat gajian tentu saya lebih tidak toleransi. Begitu juga kalian kan?

Jika alasannya ada kepentingan bagi saya itu alasan yang sudah kadaluarsa. Sebab setiap orang tentu punya kepentingan. Keperluan dan kewajiban. Tetapi hal yang perlu digaris bawahi ialah bagaimana kita mengatur waktu agar semua kewajiban kita terlaksana tepat waktu. Matipun kalau belum tepat waktunya juga tidak jadi mati kan? Walau dicoba bunuh diri menginginkan mati lebih awal.

So, kenapa saya katakan saya tidak punya toleransi dengan kata “TERLAMBAT“?

Hal ini berhubungan dengan tingkat keseriusan kita menghargai orang lain. Artinya, kita menghargai waktu orang lain yang disediakan untuk kita. Karena bisa jadi kepentingannya tidak hanya sekedar menemui kita. Dan terlebih menikmati keterlambatan yang kita timbulkan. Ada banyak keperluan orang lain yang tidak kita tahu. Bisa jadi dengan keluarga, klien, teman-temannya bahkan yang jarang kita pikirkan adalah dia juga ingin punya waktu untuk dirinya sendiri.

Dengan datang tepat waktu dan tidak membuat menunggu artinya kita benar-benar mengagendakan pertemuan itu dengan serius. Misalnya, jika kita ada meeting dengan klien ataupun calon customer (Asuransi) hal ini sangat berpengaruh. Kenapa? Jika pada awal pertemuan saja kita tidak mampu meyakinkan dengan bentuk tanggungjawab yang sederhana (tepat waktu) bagaimana dengan tanggungjawab yang lebih besar? Jika anda terlambat sudah jangan heran jika anda diragukan.

Contoh lain yang lebih penting ialah saat rekrutment. Jadwal interview. Hal ini sangat menentukan, tentu didukung dengan intelektualitas dan kinerja anda (jika ada pengalaman kerja).  Biasanya dari sini perwakilan perusahaan dapat menyimpulkan bagaimana anda kelak jika sudah bekerja. Baru wawancara saja sudah terlambat bagaimana jika sudah kerja? Kesempatan anda diterima sudah pasti lewat.

Terlambat sekali dua kali itu wajar. Tetapi jika terjadi ketiga kali itu menunjukkan bahwa kita jenis orang yang kurang mampu bertanggungjawab. Lalu bagaimana jika sudah berusaha maksimal tetapi ada hal tidak terduga yang harus diutamakan dan akhirnya membuat kita terlambat?

Well, segera lakukan konfirmasi. Memberikan kabar kepada pihak yang bersangkutan agar tidak bertanya-tanya dan menunggu tanpa jawaban. Entah itu terlambat bayar utang, tagihan, janjian.

Sesuatu yang sangat penting menyikapi hal ini adalah bagaimana kita memanage waktu. Yach, management waktu. Bukan hanya pengaturan financial yang butuh management, bukan hanya pemasaran, tetapi management waktu jauh lebih penting. Bagaimana kita mengkodisikan diri kita sendiri sedemikian rupa. Mulai dari bangun tidur di waktu subuh menjelang tidur malam hari lagi. Memanage kapan harus bekerja, istirahat, mencari hiburan ataupun menyendiri. Harus ada management waktu yang kondusif dari diri kita sendiri. Agar tidak terlalu capek dan semua bisa dikerjakan secara maksimal dengan waktu yang singkat.

Ada yang pernah bilang bahwa “saya tidak punya waktu yang cukup“ ; “Rasanya 24 jam terlalu singkat“. Dua puluh empat jam tidak cukup itu hanya untuk orang yang sedang jatuh cinta. Apa yang sebenarnya membuat anda seolah kekurangan waktu? Yup. Buruknya anda mengolah waktu. Management waktu. Jika anda mampu mengaturnya secara baik saya yakin anda akan punya banyak waktu senggang untuk diri anda sendiri.

Oleh karena pentingnya management waktu untuk diri anda dan saya sendiri juga. Mulai sekarang aturlah waktu sebaik mungkin.

“Kesempatan bisa saja kita ciptakan dengan mencari peluang tetapi waktu yang terbuang tidak bisa kita minta gantinya dan tidak ada yang mampu menciptakan ataupun mengulang detik yang sama setiap harinya.“

Saturday, 6 July 2013

Hidup itu Lingkaran

Seperti awan-awan dilangit. Ia menggumpal dengan segala bentuknya di atas sana. Lalu harus rela tertiup angin menjadi hujan manakala ia sedang asyik memamerkan bentuknya yang indah. Awan turun menjadi air hujan, jatuh ke daratan mengalir ke sungai dan kemudian mengalir ke laut lepas. Dipanasi matahari, ia menguap. Menjadi awan yang berduyun-duyun berarak di langit kembali. Ini perjalanannya.

Awan tidak pernah berhenti, ia tidak juga hilang. Hanya berubah bentuk dan nama di tempat yang berbeda.  Awan tidak menolak ketika ia harus berubah menjadi hitam kelam diantara kilat dan petir. Awan tidak jua melawan ketika angin menjadikannya tiada. Awan menerimanya, karena ia tahu akan perannya di langit sana. Dari yang ada akan menuju tiada sampai akhirnya menjadi ada.

Segala sesuatu di alam semesta ini berhubungan. Seperti lingkaran yang tidak terputus. Tidak ada sesuatu apapun yang terjadi secara “kebetulan“. Alam memainkan peranannya dengan apik.

Setiap manusia sebenarnya bisa berkomunikasi dengan alam. Ia menghadirkannya melalui firasat. Melalui angin. Sinar matahari. Tunas bersemi. Lautan biru. Gunung nan hijau. Alam berbicara. Tapi kadang kita yang enggan mendengarnya. Apakah kau pernah sesekali berbicara kepada daun? Yach, seperti filosofi sebuah daun yang dulu sempat aku tuliskan. Untukmu. Untuk aku dan saya. Untuk kita.

Daun pun tak pernah benar-benar luruh dan menghilang dari kehidupan alam. Ia jatuh menjadi busuk. Berubah menjadi humus. Kandungan mikroba di dalamnya berperan sebagai mineral dan nutrisi pertumbuhan tumbuhan. Tumbuhan menghasilkan udara. Menghasilkan bahan makanan. Bahan tekstil. Bahan kerajinan dan lainnya. Bahkan jika kita jeli disetiap helai benang yang kita kenakan ada peran daun disana.

Hidup yang tidak seperti garis lurus. Tetapi lingkaran. Lingkaran. Adakalanya engkau pun akan bertemu dengan orang yang telah lama kalian lupakan keberadaannya. Ada waktunya kita akan menemukan bagaimana peran kita yang sebenarnya dalam lingkaran ini.

Friday, 21 June 2013

Senyum itu magnet?

Senyum ramah itu seperti sebuah magnet. Secara alami tanpa kita minta ia akan menarik orang lain untuk dekat dan ingin bersahabat. Seperti halnya medan magnet yang dibentuk dengan menggerakan muatan listrik (arus listrik) yang menyebabkan munculnya gaya di muatan listrik yang bergerak lainnya, maka muatan listrik dari senyum ramah itu ialah ketulusan. Sikap terbuka dan memang benar-benar senyum yang dipersembahkan dari nuraninya. Bukan senyuman racun, menusuk bahkan membunuh dibelakang sambil menyuapkan sepotong roti ditangannya.

Putaran mekanika kuantum dari satu partikel membentuk medan magnet dan putaran itu dipengaruhi oleh dirinya sendiri seperti arus listrik; inilah yang menyebabkan medan magnet dari ferromagnet "permanen".  Demikian pun dengan manusia, ketertarikan seseorang terhadap dirinya lebih banyak dipengaruhi oleh sifat alamiahnya. Salah satunya ialah senyum ramah tadi. Secara tanpa sengaja siapapun yang melihat senyum ramah akan lebih merasa nyaman, tentram untuk memandang. Pengaruhnya sangat besar, seketika bisa saja membuat orang yang tidak kita kenal tiba-tiba mengulurkan tangan menawarkan sebuah pertemanan.

Sebuah medan magnet adalah medan vektor, yaitu berhubungan dengan setiap titik dalam ruang vektor yang dapat berubah menurut waktu. Pun demikian dengan sifat ramah manusia itu, ia berkembang dan bahkan berubah selaras berjalannya waktu. Bisa jadi bertambah lebih ramah dan mendamaikan atau bisa jadi uang tadinya ramah berubah menjadi berlawanan arah. Acuh dan sangat tidak bersahabat. Faktor-faktor didalam perjalanan pertemanan itulah yang mempengaruhinya. Teman baru itu datang seperti solenoida (kumparan kawat berbentuk tabung panjang dengan lilitan yang sangat rapat), kemudian waktu dan perlakuan berperan seperti aliran listrik. Jika ia datang searah (DC) ia mampu menjadikan benda-benda seperti besi menjadi magnet yang baru. Tetapi jika alirannya bolak balik (AC) justru akan menghilangkan sifat magnetik itu sendiri. Jika senyuman ramah ialah magnet maka perlakuanmu ialah aliran listriknya, mau dibawa kemana arahnya itu yang menentukan.

Sunday, 2 June 2013

Public Management in Developing Countries

There has been a transformation in the management of the public sectors of advanced countries . The traditional model of public administration, which predominated for most of the twentieth century, has changed since the mid-1980s to a flexible, market based form of public management. This is not simply a matter of reform or a minor change in management style, but a change in the role of government in society and the relationship between government and citizenery. Traditional public administration has been discredited theoretically and practically, and adoption of new forms of public management means the emergence of a new paradigm in the public sector.

This new paradigm poses a direct challenge to several of what had previously been regarded as fundamental principles of traditional public administration. The first of these was that of bureaucracy, that governments should organize them selves according to the hierarchical, bureaucratic principles moat clearly enunciated in the classic ananlysis of bureaucracy by the German sociologist Max Weber (Gerth and Mills, 1970).

So, how was public management in Developing Countries?

Even if the public management reforms are appropriate for developed countries, these is still the question as to whether managerialism is applicable in developing countries. It can't be assumed that a style of management started in the developed countries of the West would necessarily work in such a different setting. It is possible that the new public management is culturally bound in a way that restricts its utility in lesser-developed countries.

In addition, along with a bureaucratic approach to administration, most developing countries adopted the principle of a strong state sector in the economy, in many cases allied with the t then-prevailing ideas of socialism and Marxism. It was thought that the fastest way of achieving economic growth was through government ownership of enterprise, intervention in the private economy and dominance by a bureacratic technocracy. In general, this strategy failed. As World Bank argued (1997, p.2):

“In a few countries, things have indeed worked out more or less as the technocrats expected. But in many countries outcomes were very different. Governments embarked on fanciful schemes. Private investors, lacking confidence in public policies or in the steadfastness of leaders, held back. Powerful rules acted arbitrarily. Corruption became endemic. Development faltered, poverty endured.“

Government loomed large in economic activity, but didn't have the competence or standing to be successful and its larger role enchanced the power of the bureaucracy  even more than in Western countries. Govermnet became by far the mos important societal actor. This need to change.

Whether managerial principles will work in developing countries  as they have in the West is far from clear. Indeed, it is argued by same critics that new public management doesn't work in developed countries, let alone developing ones. They may be some danger in adopting new managerialist approaches yet, the traditional bureaucratic model was not a great success in developing countries either.

In addition, the seeming success of the Soviet Union and China, with their particular models of economic development, seemed to provide an alternative system for many developning countries. These also promised something different from models of the former colonial. power, itself highly state-centric by comparison to what followed after  the public sector regorms. In rhetoric, Soviet and Chinese socialism appeared to promise a path  for developing countries and with the Third World an ideological battleground during the Cold War, adviced tries chose the socialist side and gained some benefits, such as the Tazman railway constructed by the Chinese in Tanzania in the early 1970s. Tanzania tried to follow other parts of the Chinese model, although the latter was starting to make its own transition from Maoism. Superpower conflict  through Third cost of programmes to allevieate poverty, this led to the military itself becoming an important part of the bureaucracy and even the economy.

Bureaucracies were particularly important in developing countries, but at a cost to the nation. Public employement accounted for over 50% of non agricultural jobs in Africa, 36% in Asia, and 27 % in Latin America, and in 1986 the wage bill for Guinea's civil servants accounted for 50% of total current expenditure )Smith, 1996, pg 221). The bureaucracy often operated at a remove from its own society and constituded an elite with its counterparts in the West and with foreign corporations than with its own people. Although not part of the traditional model, corruption became endemic as public servants followed their own interests. Public service pay was low and it became common,as for example in Indonesia, for public servants to have additional jobs in the private sector as well as in government employ. They sancionts against corruption were weak, so it is hardly surprising that individual public servans sought to enrich themselves.

Ref:
*Public Management and Administration by Owen. E. Hughes profesor of Public Sector Management, Monash University, Australia.

*FINANCIAL MANAGEMENT, Principles and Application by Keown/Martin/Petty/Scott, JR